Kepada Cintaku yang Sesungguhnya

Oleh: Hendi Abdurahman (@akayberkoar)

jejak-sukarno-di-bandung

Lempuyangan sedang muram. Sekitar 20 menit lagi kereta Pasundan akan bergerak menuju Kiaracondong. Tas berukuruan cukup besar yang berisi beberapa pakaian kupikul, sedangkan otak menghamburkan ingatan tentang kenanganku bersama kota ini, terbawa angin sepoi menuju entah.

*

Semoga, Ya-nya Nosstress mengalun pelan menemaniku beres-beres kosan. Setelah dipastikan semuanya beres, menyeduh secangkir Indocafe menjadi kebiasaanku di pagi hari. Jam masuk kantor masih agak lama sedangkan Jumat seperti ini selalu membuatku bingung. Bingung akan ke mana aku habiskan hari liburku.

Sudah dua bulan aku berada di Bandung dan selama itu pula aku selalu dibuat kebingungan untuk menghabiskan akhir pekan. Memang, beberapa teman kantor cukup sering mengajakku untuk jalan-jalan ke mall atau sekadar nongkrong di kafe. Sesungguhnya aku tak pernah keberatan jika teman-teman mengajak ke mall. Aku juga sering tak menolak saat teman-teman kantorku mengajak kongkow di kafe. Walaupun sebenarnya aku tak terlalu suka makan di tempat-tempat seperti itu, atau tempat yang terang dengan rasa yang gitu-gitu aja. Aku sudah cukup sadar bahwa sebenarnya aku tidak pernah membeli makanan, minuman, atau tempat bagus dengan uangku. Aku membeli obrolan, tawa, keluhan dan elemen lain dari sebuah pertemanan dengan waktuku.

Di sela-sela menyesap Indocafe yang tinggal setengah, aku membuka media sosial untuk mencari-cari komunitas yang mungkin saja bisa membikin akhir pekan sedikit berbeda. Sampai akhirnya (lagi-lagi) Instagram membantuku. “Ngabandros Jejak Sukarno di Bandung” menjadi tema dari acara yang diadakan salah satu komunitas sejarah.

Aku teringat dia, sosok yang diam-diam kuidolai.

Dengan sekali langkah aku menggapai dompet yang tersimpan di dekat laptop. Membuka isinya dan menatap foto dia yang sedang tersenyum. Dia seolah mengizinkanku untuk mengikuti acara tersebut. “Jarang-jarang loh kamu ikut serta menelusuri jejakku di kota ini. Pergerakan dan cita-citaku digembleng di sini, di kota ini. Kota ini mempunyai peranan penting untukku.”

Aku balas senyuman dia untuk kemudian mengontak narahubung dan mendaftar bahwa aku akan mengikuti acara yang mereka selenggarakan. Semoga, ya akhir pekanku kali ini menyenangkan.

*

Menggunakan Bus Bundros, aku berkeliling Kota Bandung untuk menyusuri jejak-jejak Sukarno saat dia berada di sini. Dari mulai lapas Sukamiskin hingga berujung di ITB. Berbagai penceritaan aku resapi. Sesekali pertanyaan muncul dalam benak. Aghhh… nanti saja ku tanyakan, atau aku cari di buku-buku yang berkaitan dengan Sukarnao. Berada di lingkungan serta orang-orang baru nyatanya membuatku canggung.

Sukarno, sosok yang satu ini ternyata terkenal sebagai sosok yang sering berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari kota A ke kota B, dari kota B menuju pulau C.

Sering berpindahnya Sukarno membikin aku menatap diri. Dia yang sering berpindah membuatnya semakin mengenal Indonesia dengan beragam masyarakat. Dia lihai menempatkan diri di mana dia berada. Adaptasi yang dilakukannya dari satu tempat ke tempat lain membuat aku senyum-senyum sendiri. Hmmm…

Ingatanku tentang sering berpindahnya Sukarno mengingatkanku pada momen di mana dia hendak memindahkan ibukota ke Jogja. Dengan menggunakan transportasi kereta, dia bergerak dari Jakarta menuju Jogja. Dalam gelap.

Mungkin, jalur kereta yang dia gunakan sama dengan jalur di mana aku berangkat dari Jogja ke Bandung. Lagi, kereta mempunyai peranan penting dan menjadi alat transportasi yang membantu seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Aku tiba-tiba teringat seorang kawan lama yang harus berpindah ke ibukota untuk satu pekerjaan. Berasal dari Sukabumi, lama di Bandung, dan akhirnya harus bermukim di Jakarta.

*

Aku mengagumi Sukarno karena dia merupakan sosok yang punya pendirian. Salah satu alasan terbesar yang membuatku menyukainya. Dan setelah menyusuri jejak Sukarno di Bandung ini, dengan segala penceritaannya, aku mulai menyukai sosok beliau dari sisi yang berbeda, dari sisi manusianya.

Lelah menyergap sebegitu hebatnya saat aku sampai di kosan. Tapi lelah itu terbayar dengan liburan akhir pekanku yang kali ini memang berbeda. Tak ada kopi dari cafe, tak ada pula makanan yang berasal dari foodcourt mall, yang ada hanya mie instan pake telor dengan air putih dan secangkir Indocafe yang aku bikin di kosan mungilku.

Sambil selonjoran dengan perut yang sudah kenyang, aku membuka dompet untuk melihat kembali sosoknya. Masih dengan tersenyum, dia berkata padaku “Ke Bandunglah Aku Kembali, Kepada Cintaku yang Sesungguhnya.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close