Kisah The Dusty Sneakers di Ujung Sana

Oleh: Rulfhi Pratama (@Rulfhi_Rama)

The Dusty Sneakers

Jarak boleh saja memisahkan raga sepasang sahabat. Jarak boleh saja menyebabkan menumpuknya rasa rindu. Tapi jarak tak boleh membuat hati kita menjauh. Beruntung manusia diberkati kemampuan menulis, hingga mereka bisa mencurahkan rasa dalam aksara.

Buku The Dusty Sneakers: Kisah Seorang Kawan di Ujung Sana merupakan kumpulan catatan perjalanan yang diambil dari blog sepasang sahabat bernama Teddy dan Maesy. Teddy (Twosocks) yang menetap di Jakarta menuliskan catatan perjalanannya ketika ia menjelajahi Indonesia dan Maesy (Gypsytoes) menuliskan perjalanannya di Eropa sebagai seorang mahasiswi yang menempuh studi di Den Haag, Belanda.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Langkah pertama dimulai dari perjalanan Twosocks di Indonesia Timur dan Gypsytoes di Paris. Langkah kedua merupakan catatan ketika mereka bertemu di Bangalore, India. Dan Langkah ketiga adalah penjelajahan lainnya hingga mereka bertemu kembali di Jakarta.

Buku ini lebih mirip buku harian yang diisi oleh mereka berdua. Selang-seling cerita bagai berbalas pantun. Eh tidak, rasanya lebih cocok bagai berbalas surat. Dimulai dari perjalanan Twosocks di Timur Indonesia: Merauke. Ia menceritakan wajah Papua berdasarkan penuturan Pak Mike sebagai warga lokasi. Ia pun tak sungkan untuk mengkritik kesenjangan yang terjadi di Papua. Catatan perjalanan ini jelas menampilkan sisi lain yang jarang jadi sorotan media. Serta memperkaya hati dan menyadarkan bahwa masih banyak yang belum kita ketahui.

Kemudian disambung dengan tulisan dari Gypsytoes menyapa Shakespeare and Company di Paris. Berbekal fantasi dan imajinasi yang dibawa dari hasil bacaannya, Gypsytoes melakukan perjalanan menuju Paris. Ia berjalan-jalan di pinggir Sungai Seine, mengunjungi Museum Louvre, dan Shakespeare & Co sebagai toko buku dan rumah singgah bagi penulis kere macam Hemingway, Gestrude Stein, James Joyce. Dan saya pikir Paris tak terlalu romantis.

Berlanjut ke cerita lainnya, Praha: Negeri Dongeng yang Kelam. Sebagian orang mungkin hanya mengetahui dongeng selalu berakhir bahagia dan membawa mimpi indah. Tempat para peri mengabulkan semua keinginan kita. Itu hasil kompromi saja. Jika kalian menggalinya lebih dalam lagi, ternyata dongeng berasal dari kisah-kisah tragis dan kelam. Sebut saja kisah Si Gadis Bertudung Merah yang dimakan serigala ternyata dimaksudkan sebagai peringatan bagi anak-anak perempuan agar tidak terlena dengan tipu daya laki-laki hidung belang yang ingin meniduri mereka.

Di Praha, Gypsytoes pun menceritakan kisah tentang Golem, si pelindung Pemukiman Yahudi. Sang Golem terbuat dari tanah liat yang dibuat oleh Rabi Low dan dua muridnya selama tujuh hari tujuh malam. Kemudian ditempelkannya kata-kata ajaib di sekeping shem pada mulut Golem. Sang Golem kemudian hidup. Golem berhasil menunaikan tugasnya menjaga Pemukiman Yahudi. Setiap hari Sabat tiba Rabi Low selalu mengeluarkan sekeping Shem dari mulut Golem untuk memberi waktu istirahat. Suatu ketika Rabi Low lupa mengeluarkan sekeping shem dari mulut Golem karena ia terlalu sibuk mengurus putrinya yang sakit. Sang Golem pun mengamuk dan menghancurkan apapun yang dilihatnya. Mengetahui makhluk ciptaannya terlalu berbahaya, Rabi Low pun membalikkan mantranya sehingga Golem kembali menjadi gumpalan lempung. Dan Pemukiman Yahudi kembali tak terjaga.  

Gypsytoes sangat pandai bercerita. Ia tak sungkan untuk menyelipkan berbagai dongeng di catatan perjalanannya atau pun kisah-kisah unik di tiap tempatnya. Cerita lainnya yang cukup menarik bagi saya adalah cerita dari teman mereka: Arip Syaman. Suatu ketika Arip diajak oleh Twosocks untuk mendaki Gunung Galunggung. Bujuk rayu Twosocks berhasil. Arip yang punya badan tambun sangat kepayahan untuk mencapai puncak Galunggung. Bahkan ia mengumpat tangga-tangga yang membawa ia ke puncak. Sampai puncak Arip pun pingsan. Tapi setelah kejadian tersebut Arip kembali mengajak Twosocks mendaki Gunung Ciremai. Gunung Tertinggi di Jawa Barat. Twosokcs ragu, untuk mendaki Gunung Galunggung yang tak terlampau tinggi ia kewalahan, apalagi Gunung Ciremai. Nyatanya benar saja ia kewalahan dengan carrier di punggungnya. Carrier pun di titipkan pada seorang porter dan ia pun seketika merasa kuat untuk mendaki. Dan sungguh ajaib tanpa beban dipunggung, ia mendaki bagai pendaki kawakan. Luar biasa. Akhirnya ia sampai di puncak. Di puncak ia menitipkan kenangan dengan cara aneh, ia boker di sana. Namun ketika sudah kembali ke Jakarta, Arip mengabarkan Twosocks bahwa ia kena tifus.

Sekali lagi saja mengeritkan dahi dan berkata kampret. Mereka sungguh aduhai menuliskan catatan perjalanannya. Mereka memilih menuliskan kejadian, percakapan dengan seorang kawan seperjalanan, maupun sejarah  tempat tersebut daripada hanya menuliskan nama-nama tempat terkenal yang disisipi kata-kata bijak. Dalam buku ini saya juga menyukai cerita perjalanan dari Palermo, Italia. Gypsytoes diajak seorang kawannya untuk menemani perjalanananya ke Italia. Tapi siapa sangka Gypsytoes diajak untuk bertemu dengan pengedar ganja. Kamu bayangkan kamu datang ke Italia bukan untuk menikmati keindahan kotanya tapi kamu menemui pengedar ganja. Mungkin saja kamu ketika itu bisa ditangkap polisi. Rasanya sungguh gila. Tapi tak seburuk yang dibayangkan. Gypsytoes malah berhasil menemukan cerita kota Palermo dari sudut pandang seorang pengedar ganja yang mungkin tidak akan didapat jika kita datang sebagai wisatawan.

“Untukku, perjalanan malah membantuku menemukan bagian-bagian diriku yang tidak aku ketahui sebelumnya. Perjalananku membuatku tersadar betapa aku ingin meneliti keterlibatan orang muda dalam berbagai konflik.” (hal. 67)

Dari tulisan catatan perjalanan mereka dapat kita lihat luasnya bacaan dan wawasan mereka. Catatan perjalanan mereka jelas telah membuka sudut pandang baru dari seorang pejalan. Mereka memberikan sisi lain dari perjalanan, bagaimana sebuah tempat berdasarkan sejarahnya, kehidupan manusianya sampai percakapan dengan kawan baru di sepanjang perjalanan. Hingga benar saja catatan perjalanan mereka lebih dari sekedar laporan tempat atau laporan cuaca semata, tapi bagai kumpulan puzzle yang membuka pencerahan untuk memaknai setiap perjalanan.

Saya sendiri sering melakukan perjalanan dengan teman-teman Komunitas Aleut. Jelas perjalanan yang sangat berbeda sebab kami sangat jarang sekali tertuju pada suatu objek keindahan semata. Bahwa dalam setiap perjalanan merupakan tempat pengakraban satu sama lain. Kami pun tak segan untuk berbaur dengan warga dan menjadi bagian warga. Sebab dengan cara ini lah kita mampu mendapatkan sudut pandang berbeda dari setiap tempat yang dikunjungi.   

Membaca buku ini jelas telah memberikan inspirasi bagi saya untuk menuliskan catatan perjalanan dan lebih memaknai setiap perjalanan. Perjalanan alangkah sia-sia jika hanya lewat begitu saja dan hanya meninggalkan foto yang ditaburi romantisasi saja. Dan yang lebih penting adalah “dengan siapa saya pergi menjadi lebih penting daripada ke mana saya melangkah kaki.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close