Becak Kencana

becak bandung

Oleh: Seno Gumira Ajidarma

*

“BERCERITALAH TENTANG KEPUNAHAN,” KATA ALINA KEPADA TUKANG CERITA ITU.

Maka tukang cerita itu pun bercerita tentang Rambo:

Langit semburat ungu. Senja telungkup ke kota itu. Dari dalam kota, kafilah beratus-ratus truk menggebu melewati padang pasir, mengangkut beribu-ribu becak. Debu mengepul di balik bayang-bayang hitam memanjang seperti naga raksasa. Deretan truk itu bagaikan tak putus-putus keluar dari kota mengangkuti beribu-ribu becak. Musik yang dahsyat membahana di telinga para sopir. Beratus-ratus sopir truk menggunakan walkman. Beratus-ratus walkman menggaungkan musik padang pasir.

Beratus-ratus truk meluncur di padang pasir. Di bagasi truk itu becak-becak menungging, rodanya berputar-putar dan bergoyang-goyang. Kepulan debu makin memanjang. Dari jauh tampak membubung dalam sisa cahaya senja. Beratus-ratus truk terus meluncur tanpa berbelok. Beribu-ribu orang jongkok di tepi lintasan truk-truk itu dengan mata kosong. Tangan mereka sesekali terulur entah mau apa. Sesekali mulut mereka mengeluarkan keluhan lemah. Namun sopir-sopir menekan pedal gas dalam-dalam. Mata mereka waspada ke depan. Mereka tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Dan di telinga mereka bergema musik padang pasir yang syahdu. Keras sekali.

Beratus-ratus truk menuju ke pantai. Ombak menghempas-hempas dan berdebur-debur bagaikan dewa laut yang kelaparan. Beratus-ratus truk tiba di pantai. Ombak menderu-deru dan angin mendesis-desis. Ratusan truk berjajar-jajar membelakangi laut. Ratusan bagasi truk terangkat bersama-sama dan beribu-ribu becak berpindah tempat ke ratusan perahu angkutan. Beratus-ratus perahu mengangkut beribu-ribu becak dalam ombak yang ganas. Di tengah laut, beratus-ratus perahu menumpahkan beribu-ribu becak bersama-sama. Beribu-ribu becak meluncur ke dasar laut membuyarkan ikan-ikan. Tak lama kemudian, becak itu berubah menjadi fosil.

Di puncak bukit karang, seorang lelaki berdiri tegak menatap pemandangan itu. Latar belakang langit senja membuat lelaki itu hanya tampak seperti sosok hitam. Ia berdiri tegak seperti patung, matanya menatap tajam kepada beratus-ratus perahu yang memuntahkan beribu-ribu becak. Ia masih tetap di sana sampai perahu-perahu kembali ke pantai, dan truk-truk meluncur kembali ke kota, meninggalkan kepulan debu yang memanjang. Di samping sosok kehitaman lelaki itu tampaklah bayangan sebuah becak.

Pada malam hari, ia mengendarai becak itu menuruni bukit. Di kaki bukit, seorang perempuan melambaikan tangannya: “Cak!”

Becak itu berhenti.

“Ke pasar berapa Bang!”

“Gopek.”

“Nopek mau?”

“Naik.”

Becak itu segera melaju di padang pasir menuju kota yang kini gemerlapan. Di jalan mereka menyalip beribu-ribu orang yang tadi jongkok di tepi jalan dengan pandangan mata kosong.

“Ramblo!” teriak mereka ketika melihat becak itu.

“Apa?!”

“Hati-hatilah Rambo!”

“Kenapa?!”

“Waspadalah! Becakmu kini adalah becak terakhir di dunia!”

“Aku tahu!”

Ya. Itulah Rambo si tukang becak. Tubuhnya luar biasa tegap. Wajahnya tampan tapi agak bego. Ia menggenjot becaknya dengan kencang. Rambutnya yang agak gondrong melambai-lambai. Ikat kepalanya juga melambai-lambai. Dari langit terdengar lagu Melayu.

Kudaku berlari gagah berani!

Ayo lari…

Rambo memang bukan sembarang tukang becak. Becak yang digenjotnya pun bukan becak sembarangan. Becak itu adalah Becak Kencana. Dengan becak itu Rambo telah menjuarai reli akbar Paris-Dakar dalam kelas becak. Telah keliling dunia mengendarai becak sampai tiga kali. Telah ikut sirkus keliling yang mempertunjukkan aktraksi becak. Rambo mampu berjalan di atas tali mengendarai becak, satu roda becak itu menapak tali, dua roda depan terangkat ke atas. Belum lagi akrobat-akrobat becak yang lain.

Becak Kencana itu kini melaju ke dalam kota. Keringat membasuh tubuh Rambo. Kaos singletnya basah. Bahkan celana renang yang dipakainya pun basah. Sesekali ia menyeka wajahnya dengan handuk kecil di lehernya. Kakinya yang bersepatu basket mengayuh terus tanpa henti. Perempuan dalam becak itu duduk dengan santai. Kakinya menjuntai dan tangannya terus-menerus menyisir rambut.

***

Dengan kecepatan angin, Becak Kencana menembus gerbang kota. Para petugas bersenjata Armalite dan Kalashnikov, yang sedang asyik merenung-renung terkejut. Seseorang segera memberondong. Ternyata luput.

“Gila! Masih ada saja becak di kota ini!”

“Itulah becak terakhir dan yang belum digaruk!”

“Cepat laporkan!”

Dalam sekejap kota itu jadi hiruk-pikuk. Sirene polisi itu meraung-raung. Mobil polisi dengan lampu biru yang sorot cahayanya berputar-putar segera melejit di jalanan, memburu satu-satunya becak yang masih gentayangan.

Rambo ngebut di sela-sela kendaraan yang lain. Orang-orang di dalam mobil atau di trotoar yang melihatnya terperangah.

“Lihat! Becak Kencana belum digaruk!”

“Itu Rambo!”

Keringat Rambo berkilatan disiram hujan cahaya dari reklame-reklame neon raksasa.

“Sebelah mana pasarnya?” Teriaknya di antara deru kendaraan yang berseliweran.

“Masih jauh!”

“Di mana?”

“Ujung dunia!” Dan perempuan itu tertawa berkepanjangan. Namun belum lagi Rambo memahami maksudnya, suara sirine mobil polisi terdengar makin nyaring. Di hadapannya mobil polisi itu mendecit menghadang jalan. Dengan lincah Rambo membelokkan becaknya. Ia menyelusup di jalan-jalan kecil, lantas muncul di jalan besar yang lain.

Di setiap jalan besar, petugas-petugas ber-HT segera melaporkan ketika melihat Becak Kencana melaju.

“Rambo melintas Jalan Satu!”

“Becak Kencana melintas Jalan Dua!”

Setiap jalan keluar telah disumbat, tetapi Rambo tetap saja bisa mengecoh. Kadang-kadang ia menggenjot becaknya terbang di atas mobil polisi. Sementara perempuan di dalam becak itu tetap saja tertawa-tawa sambil terus-menerus menyisiri rambut.

Hampir seluruh polisi kota itu telah dikerahkan. Sirene menjerit-jerit sepanjang jalan. Lalu lintas kacau. Rambo malang melintang dengan akrobatis. Ia menggenjot Becak Kencana kencang-kencang dalam berbagai gaya. Kadang-kadang becak itu berjalan miring, hanya dengan dua roda, tapi tak jarang pula cuma dengan satu roda. Di tempat-tempat strategis, para juru kamera televisi mengabadikan perjuangan Rambo. Seorang reporter televisi berkomentar:

“Dahsyat sekali! Tak kurang dari tiga ribu polisi mengejar becak terakhir di dunia! Tapi Becak Kencana yang dikemudikan Rambo belum juga tertangkap! Rupa-rupanya Rambo lebih paham seluk-beluk jalanan kota ini ketimbang para polisi! Ia melaju! Ia menyalip! Ia melesat seperti setan! Dari gang ke gang! Dari jembatan ke jambatan! Lihat saudara-saudara! Lihatlah pada layar televisi Anda! Seorang tukang becak diuber-uber tiga ribu polisi! Inilah sejarah! Saudara-saudara sedang menyaksikan nasib becak terakhir di dunia, dikemudikan pengemudi becak terbaik dan terakhir di dunia!”

Pada layar televisi, gambar Rambo terus menerus bisa diikuti penonton. Para kamerawan pun agaknya tak kalah lincah. Setiap jengkal perjalanan Rambo bisa mereka kejar. Para reporter berganti-ganti melaporkan pandangan mata mereka.

“Para pirsawan di mana saja Anda berada! Lihatlah peluh Rambo bercucuran seperti butir-butir mutiara! Nafasnya terengah-engah! Wajahnya memelas tapi memendam kemarahan! Ia terus-menerus menggenjot becaknya! Matanya nyalang! Astaga! Para pirsawan di rumah! Lihatlah matanya! Matanya menyimpan dendam! Dendam yang tidak pernah terbalas! Tidak pernah ada tukang becak bermata seperti itu saudara-saudara sekalian! Para pirsawan di seantero tanah air, apakah mata Rambo mewakili perasaan tukang-tukang becak di seluruh dunia yang becaknya digaruk?!”

Rambo masih saja menggenjot becaknya. Ia mulai bisa menjauh dari kejaran polisi. Ia memasuki daerah kumuh yang tak bisa dilalui mobil polisi. Sebetulnya sepedamotor polisi masih bisa mengejar, kalau mau, tapi banyak di antara sepedamotor itu sudah rusak bergelimpangan ketika menguber-uber Rambo di jalan raya. Rambo telah menyapu mereka masuk comberan satu persatu. Sisanya, mau masuk ke daerah itu takut. Maklumlah, mereka bisa dikepruk tangan-tangan tak kelihatan dari belakang. Para kamerawan ragu-ragu pula masuk ke sana, apalagi mengingat peralatan mereka yang serba mahal. Maka mereka naik ke gedung-gedung tinggi, dan menembakkan kameranya dari sana.

Dari ketinggian, tampak Rambo menggenjot becaknya pelan-pelan. Di ujung jalan sekelompok orang berjoged mengikuti irama orkes, diterangi lampu petromaks.

Hidupku untuk cinta

Tak terbalas cinta

“Aku turun di sini, kita sudah sampai,” ujar perempuan yang tak henti-hentinya menyisiri rambut itu tiba-tiba.

“Inikah ujung dunia?”

Perempuan itu hanya tertawa-tawa. “Kamu tidur di tempatku saja,” katanya sambil menarik tangan Rambo. Tukang becak itu menurut saja. Mereka lenyap di kegelapan.

“Mereka lenyap di kegelapan! Para pirsawan di rumah, Rambo dan perempuan penumpangnya menghilang ke sebuah gubuk! Dari tempat reporter Anda berada, hanya tampak Becak Kencana parkir di depan gubuk reyot yang biasa digunakan para pelacur. Saudara-saudara penonton di rumah, di daerah hitam ini orang-orang tidak terlalu peduli dengan Rambo. Mereka juga tidak peduli ada tiga ribu polisi sedang memburu-buru Becak Kencana. Mereka sendiri sudah terlalu sering digusur, diciduk, maupun digaruk. Mereka adalah…”

Reporter televisi itu terus melaporkan keadaan. Sementara di sekeliling wilayah kumuh itu, satu persatu bermunculan anggota pasukan tentara. Mereka merayap perlahan dengan senapan M-16 di tangan. Beberapa orang bahkan membawa bazooka. Di dalam gubuk, kedua orang itu bercakap-cakap.

“Aku pelacur, kami sudah biasa digaruk. Nasib kita sama-sama tergusur.”

“Tapi pelacur tak akan pernah habis digaruk, lain dengan becak. Becakku adalah becak terakhir di dunia. Tak akan pernah ada pelacur terakhir di dunia. Kamu lebih untung…”

“Ah, sudahlah Rambo,” kata pelacur muda itu sambil mengusap peluh di wajah Rambo, lantas ditariknya kepala tukang becak itu. Lantas diciumnya. Lantas mereka bermain cinta.

Secercah cahaya menerangi Becak Kencana yang nongkrong di luar. Rambo mengunci rodanya dengan rantai, dibelitkan ke sebuah tiang.

“Pirsawan televisi seantero tanah air,” kali ini suara si reporter rendah sekali, nyaris berbisik, “satu batalyon tentara telah didatangkan untuk menyergap Rambo. Maklumlah, kalau becak terakhir di dunia ini tak juga berhasil dirazia, yang berwajib akan malu. Bukan saja malu karena tak mampu membasmi becak, tapi juga malu karena di negara modern ini masih saja ada becak. Untuk dosa ini, Rambo bisa dihukum tembak. Memang, para bekas tukang becak belum mendapat pekerjaan baru. Namun wajah kota yang bersih, dan jalanan yang lebih indah tanpa becak jauh lebih penting. Bukankah negara kita sedang membangun? Saudara-saudara penonton televisi. Suasana makin menegangkan. Sekitar gubuk reyot tempat Rambo dan perempuan tadi masuk sudah dikepung rapat. Sayup-sayup terdengar musik dangdut. Pada layar televisi Anda tampak mereka merayap dengan senjata di tangan. Namun orang-orang yang berjoged di ujung jalan itu tidak peduli. Nah, lihat Saudara-saudara, komandan operasi bicara lewat pengeras suara.”

“Rambo! Menyerahlah! Kamu sudah dikepung! Kamu tidak mungkin lolos! Serahkan becakmu dengan sukarela!”

Sepi. Tidak ada jawaban. Malam serasa lebih kelam.

“Kalau kamu menyerah dengan baik-baik, kami akan memberi kamu pekerjaan! Kamu tidak usah menggenjot becak!”

Masih sepi. Suara tikus mencericit dari lubang got.

“Kami akan memberi kamu sebuah bajaj! Sebuah Bajaj Kencana!”

Dari dalam gubuk terdengar suara tawa perempuan.

“He, ada berapa bajaj tersedia untuk seluruh bekas tukang becak?” teriak perempuan itu, di tengah tawanya yang berkepanjangan.

“Bangsat kamu Rambo! Kami tidak punya pilihan lain! Maaf, sebetulnya kami bersimpati padamu, tapi kami hanya menjalankan tugas! Siap menyerbu! Satu.. Dua..”

Namun tiba-tiba gubuk reyot itu terbuka.

“Tahan! Aku menyerah!”

Rambo muncul sambil mengangkat kedua tangannya. Wajahnya loyo, malas, dan pasrah. Pelacur itu mengikut di belakangnya dengan malu-malu.

“Astaga! Saudara-saudara pirsawan! Pahlawan kita menyerah! Lambang pemberontakan kita menyerah! Sungguh memalukan! Ini tidak boleh terjadi! Tidak! Rambo! Jangan menyerah Rambo! Matilah sebagai ksatria! Matilah sebagai pahlawan!” reporter televisi itu berteriak-teriak dari atap gedung.

Di rumah-rumah, para penonton televisi juga riuh berteriak-teriak. Suasana kota riuh-rendah.

“Jangan bikin malu Rambo!”

“Bangsat kamu Rambo!”

“Kami tidak punya lambang lagi!”

“Kami sendiri tidak berani!”

“Rambo! Sialan lu! Dibayar berapa kamu?!”

Bahkan banyak yang menendang dan melempar kaca layar televisinya sampai pecah.

“Jadi kamu menyerah Rambo?” komandan itu menegaskan.

Rambo maju ke depan, masih mengangkat kedua tangan.

“Ya, aku menyerah. Aku bukan pahlawan. Dan aku tidak mau jadi pahlawan. Aku cuma tukang becak yang takut mati dan perlu makan..”

Komandan itu tersenyum sejenak. Namun mendadak berseru:

“Tembaaaaaakkk!!!”

“Sudah! Sudah! Jangan teruskan!” Alina menyergah tukang cerita itu, “aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi! Kenapa sih ceritanya harus berakhir seperti itu?”

“Begitulah zaman berubah Alina. Punah dinosaurus. Punah suku Apache. Punah pula becak-becak..”

“Zaman memang sudah berubah. Tapi kenapa kita juga harus ikut berubah?”

Tukang cerita itu tidak menjawab. Ia hanya meringis. Sehingga mirip patung Buddha yang sedang tertawa.

Jakarta, Februari 1986

***

Seno Gumira Ajidarma, alumni mahasiswa Institut Kesenian Jakarta yang malang melintang sebagai wartawan dan pengarang. Judul buku yang sekaligus menjadi adagium yang melekat padanya adalah: Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.

Penulis yang satu ini tulisan-tulisannya masih bisa direnungi, ditelaah, dan juga menjadi bahan pembelajaran. Bahkan, cerpen-cerpennya masih relevan sampai kiwari. Termasuk cerpen Becak Kencana yang secara garis besar menceritakan tentang kepunahan. Meski dalam cerpennya ini Seno menganalogikan kepunahan becak, namun ada pesan lain yang cukup mendalam yang ingin ia sampaikan. Ya, tak melulu soal kepunahan becak. Ada kepunahan lain seperti hak-hak sebagai warga negara dalam menentukan pilihan.

Dengan bahasa yang saya pikir nyaris mudah dipahami, Seno seolah mengajak semua elemen pembaca untuk memasuki keresahan-keresahan yang ia rasakan. Meski tak banyak kejutan, secara alur cerita, Becak Kencana berhasil merangkum inti permasalahan. Saya hampir lupa bahwa ada tokoh Alina di cerpen ini, dan saya tersadarkan saat membaca bagian akhir cerita.

Cerpen ini dibumbui dengan kalimat yang menawarkan banyak kata majemuk repetitif seperti beribu-ribu, beratus-ratus, mendesis-desis, dan sejenisnya yang justru menjadi keasyikan tersendiri bagi saya yang membacanya.

Membaca cerpen dengan cerita kepunahan becak ini mengingatkan saya akan tulisan Zen RS yang berjudul Masih Ada Becak di JogjaDi cerpen ini pula, tersirat suara perlawanan atas suatu kekuasaan yang terjadi saat itu. Bagaimana kondisi sosial dan ekonomi dalam cerpen ini juga begitu sangat terasa.

Foto sumber: Qiny Shonia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close