Mengepang Kenangan Bersama Sinta Ridwan

sinta ridwan perempuan berkepang kenangan

Oleh: Elmi Rahmatika (@elmirfaa)

Berawal dari perbincangan di grup Whatsapp Komunitas Aleut, saya pertama kali mendengar nama Sinta Ridwan. Nama yang masih asing dalam telinga dan pengetahuan saya yang masih dangkal akan perkembangan sastra Indonesia terkini. Beberapa waktu kemudian seorang kawan pegiat Komunitas Aleut berinisial Pinot menawarkan karya teranyar Sinta Ridwan yang berjudul Perempuan Berkepang Kenangan lewat grup yang sama. Namun karena kondisi keuangan tidak memungkinkan, saya tidak bisa menculik karya Sinta Ridwan saat itu. Saya terpaksa kembali menahan rasa penasaran. Beruntung, sekitar dua minggu yang lalu saya dengan seorang pegiat Komunitas Aleut lain yang berinisial Mbak Nuy sepakat untuk tukar-baca buku yang kami punya – saya minta Perempuan Berkepang Kenangan yang baru dibelinya. Maka jadilah saya berkenalan dengan Sinta Ridwan lewat buku kumpulan cerpennya.

Buku setebal 198 halaman ini ibarat sebuah kurasi cerpen-cerpen yang ditulis Sinta Ridwan dalam kurun waktu 2011-2015. Hasil dari proses dan perjalanan panjang itu adalah sepuluh buah cerpen aneka rupa. Sepuluh cerpen yang dikumpulkan dalam buku ini pun sebagian besarnya pernah diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hanya dua judul yang belum pernah terbit di manapun: “Pensiun Jadi Pujangga” dan “Konser Kematian Katakomba”.

Ternyata, saat membaca kumpulan cerpen ini, saya seperti menjadi pengikut dalam penjelajahan Sinta Ridwan ke berbagai tempat yang menakjubkan. Saya merasa lega karena lewat karyanya, Sinta tak menonjolkan eksotisme tempat semata, tapi justu lebih tentang eksotisme manusia dan budayanya. Eksotisme manusia dan kebudayaan suatu bangsa adalah sebuah harta karun yang justru sering dipandang sebelah mata dan dianaktirikan. Padahal, cerita rakyat yang besar lewat kebudayaan lisan sangat variatif dan potensial untuk dimodifikasi, direka citra dan dialihmediakan ke dalam bentuk tulisan. Sebuah usaha yang nampaknya telah berusaha dicoba oleh Sinta Ridwan lewat karyanya ini.

Kesan personal tersurat jelas lewat penggunaan kata ganti orang pertama pada berbagai cerita seperti pada “Hati Nona Laut”, “Cerita Tanpa Judul” ataupun “Melarung Sesajen Luka”. Itu pula yang membuat saya seolah merasakan pengalaman personal penulis dalam menjelajahi Bandung, Cirebon, Raja Ampat hingga Paris; tempat-tempat yang lalu Ia sadur sebagai latar cerpen-cerpennya. Hal itu, seperti yang penulis jelaskan sendiri di awal buku, berkaitan dengan preferensi teknik penulisannya yang menitikberatkan pada pengalaman personal sebagai dasarnya. Dalam hal ini, yang paling utama tentu saja berkenaan dengan pengalaman spasial dan kultural.

Omong-omong tentang personalitas ini, Susan Sontag dalam esai The Truth of Fiction Evokes Our Common Humanity membahas bahwa penulis (fiksi) yang hebat itu adalah mereka yang mampu menciptakan dunia tersendiri yang baru dan unik serta dapat menjadikannya sebagai sebuah respons terhadap kondisi sosial dunianya yang belum diketahui atau disalahpahami orang. Lalu lewat tulisan-tulisannya yang jujur, seorang penulis hebat mampu membangkitkan rasa kemanusiaan dan kesadaran kita akan kondisi sosial di sekitar lingkungan kita. Saya kira penulis pun berusaha mengambil peran ini salah satunya lewat cerpennya yang berjudul “Perempuan Berkepang Kenangan” yang menggambarkan kegetiran, kesedihan dan penderitaan yang ditimbulkan oleh pemberontakan DI/TII khususnya di wilayah Jawa Barat di masa silam. Satu kisah yang masih belum banyak diketahui dan masih banyak disalahpahami oleh orang-orang.

Maka, sepuluh cerita pendek yang ada di dalam buku ini saya anggap lebih sebagai catatan perjalanan pribadi serta sebentuk tanggung jawab sosial sang penulis terhadap lingkungan tempat Ia tumbuh daripada sekedar karya fiksi.

Lebih dari itu, saya kira latar belakang akademis penulis sebagai seorang filolog juga turut mempengaruhi tema dan isu yang diangkat pada setiap cerpennya. Ada bahasan folklore Raja Ampat dalam “Hati Nona Laut” dan kebudayaan Kanekes dalam “Cerita Tanpa Judul”. Lalu dalam cerpen “Nada Gitar Suling”, penulis berusaha menggugah kesadaran pembaca akan sebuah produk kebudayaan yang mulai terlupakan: kesenian tarling Cirebonan. Lebih jauhnya lagi tentu berusaha membangun kesadaran masyarakat umum untuk kembali peduli pada sekitar: pada nilai-nilai dan produk kebudayaan kita masing-masing.

Selain mengangkat isu masyarakat dan kebudayaannya, penulis juga mengangkat isu sejarah dengan cara mereka ulang jalan ceritanya. Di cerpen “Kikisan Sungai Leiden” misalnya, lewat tokohnya yang bermimpi,  penulis berusaha mengilustrasikan sekeping sejarah tentang perjalanan pulang seorang Meneer ke Belanda setelah mengumpulkan naskah-naskah kuno dari wilayah Priangan. Atau misal di cerpen “Nada Gitar Suling” yang membahas salah satu sejarah terkelam bangsa Indonesia yaitu Tragedi 1965.

Satu hal terakhir yang saya kira unik adalah bagaimana penulis memberikan penamaan pada setiap tokohnya dengan semua nama tokoh berakhiran -ta: Tita, Zita, Cita, Sita, Yita & Mang Ita, Fita, Lita, Wita juga Hita. Hanya di cerita “Nada Gitar Suling” saya tidak menemukan nama lengkap tokohnya. Pertanyaannya kemudian adalah kenapa penulis melakukannya? Saya kira itu bukan disebabkan ketidakmampuan penulis dalam mereka nama-nama unik dan menarik. Tapi, merujuk ke paragraf-paragraf awal, saya kira penulis berusaha membuat cerpen-cerpennya tetap “aku” bagi penulis juga pembaca, agar pembaca pun punya ikatan emosi dan kepedulian yang sama dengan apa yang dirasakan oleh penulis. Itulah kiranya kenapa penulis berusaha tetap melibatkan bagian dari dirinya dalam setiap cerita –lewat sebuah nama.

Seperti halnya dapat dijumpai pada berbagai jenis karya sastra, penikmat karya sastra ketika menikmati sebuah karya sastra akan mengalami sebuah perasaan yang disebut epiphany: suatu keadaan yang membawa kita pada momen refleksi dan kontemplasi setelah menikmati suatu karya sastra. Lewat buku kumpulan cerpen “Perempuan Berkepang Kenangan” ini, setidaknya, momen epiphany yang bisa dirasakan adalah untuk kembali merefleksikan kepedulian kita akan kondisi sosial di sekitar yang bisa berupa norma sosial, warisan kebudayaan serta warisan sejarah yang menyertainya.

Jika tugas seorang penulis adalah sebagai seorang agent of change terhadap kondisi sosial di sekitarnya, maka tugas seorang pembaca saya kira adalah untuk menangkap pesan-pesan perubahan yang disampaikan dan menerapkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close