Pengantar Sembilan Elemen Jurnalisme

bill kovach buku sembilan elemen jurnalisme

Jurnalisme tidak bermula dan tidak berakhir dengan berita. Sikap ingin tahu adalah awalnya dan dasarnya, seperti sebuah batu pertama yang berlanjut menjadi fondasi sebuah lorong. Setelah itu jurnalisme menempuhnya, dalam keadaan ruwet dan licin, yang membutuhkan bukan saja keterampilan dan kecerdikan, tapi juga kesediaan dan kemampuan untuk menjadi polisi lalu lintas, dan kemudian jadi jaksa dan hakim terhadap diri sendiri, yang awas terhadap pelanggaran. Terdakwa pertama memang bukan orang lain. Setelah berita ditulis dan dimuat, status terdakwa itu belum tentu selesai.

Bill Kovach, yang saya kenal pertama kali di tahun 1989, ketika ia pertama kali menjadi kurator Nieman Fellowship di Universitas Harvard, adalah seorang wartawan yang tak henti-hentinya mengingatkan itu. Ia seorang yang prihatin.

Saya ingat satu kejadian di Boston di tahun 1989 itu. Harian The Boston Globe memberitakan sebuah peristiwa pembunuhan. Seorang istri kedapatan mati kena tembak, ketika berada di mobil yang berhenti di sebuah bagian kota Boston yang muram. Suaminya luka-luka.

Polisi segera memeriksa daerah tempat kejahatan terjadi. Daerah itu memang sudah lama dianggap rawan: orang-orang hitam dan miskin tinggal di sana, dengan segala persoalan, yang umumnya berkait dengan kawasan seperti itu: obat bius, kriminalitas, kekerasan. Penggeledahan dilakukan, juga interogasi. The Boston Globe mengarahkan liputannya ke orang-orang hitam itu.

Kemudian ternyata bahwa sang suami sendiri yang menembak istri itu, dan setelah itu, melukai dirinya sendiri. The Boston Globe memberitakan semuanya, tapi tampak bahwa dalam investigasinya, para wartawannya ikut memulai praduga bahwa si pembunuh datang dari daerah miskin itu.

Para wartawan dari pelbagai media di Amerika Serikat dan dari negeri lain yang waktu itu berada di Harvard untuk mengikuti (atau “menikmati”) Nieman Fellowship pun mengundang tim mereka. The Boston Globe untuk menjelaskan pemberitaan mereka. Saya hadir dalam pertemuan di ruang pertemuan di Walter Lippmann House malam itu. Kovach ikut mendengarkan diskusi, dan kemudian ia menyebutkan kesimpulannya kepada saya. The Boston Globe tidak segera melihat, katanya, bahwa pemberitaannya ikut memperlakukan orang-orang hitam miskin itu seperti halnya polisi – dengan kecurigaan. Para wartawan yang terlibat dalam reportase itu sudah terlalu akrab dengan pihak kepolisian Boston. Mereka juga sudah terlalu jauh dari kalangan miskin. Seandainya ada wartawan yang tinggal atau bekerja di sana, tentu akan lebih bisa merasakan bagaimana sewenang-wenangnya tuduhan awal itu kepada penduduk orang hitam.

Dengan kata lain, para wartawan The Boston Globe tak menyadari prasangka-prasangka yang merasuk dalam diri mereka sendiri – yang datang antara lain karena kelas sosial yang berjauhan, bahkan bertentangan.

Menyadari prasangka dan kepentingan sepihak dalam diri sendiri membutuhkan kejujuran yang bukan alang kepalang. Dalam pengalaman di Indonesia, saya ingat berita yang ditulis oleh wartawan Lukas Luwarso untuk majalah Forum mengenai “Peristiwa 27 Juli 1996” ketika kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI), yang diduduki pendukung Megawati Soekarnoputri, diserbu dengan kekerasan oleh polisi dan tentara yang menyamar. Cara pemerintahan Soeharto menangani persoalan PDI memang membuat tersinggung rasa keadilan banyak orang, dan penyerbuan itu salah satu contoh yang brutal.

Mereka yang tergabung dalam pergerakan untuk demokrasi waktu itu memobilisasi oposisi lebih jauh, dengan menggunakan serbuan ke kantor PDI itu sebagai contoh jahatnya kekuasaan “Orde Baru”. Informasi disebar, melalui statemen ataupun media bawah tanah, tentang jumlah korban yang besar, sampai mencapai sekitar 100 orang yang ditemukan mati. Lukas Luwarso salah seorang wartwan pertama yang masuk ke tempat kejadian pagi itu – dan dia tek menemukan sesuatu apapun yang mengerikan. Tak ada mayat, tak ada darah. Laporannya dalam majalah Forum menyebut fakta itu – meskipun ia sendiri seorang aktivis dalam gerakan prodemokrasi yang bahkan pernah ditangkap aparat keamanan. Dengan kata lain, ia tak membiarkan kepentingan perjuangannya sendiri merusaka integritas jurnalistiknya. Ia tahu, bahwa tak hanya manusia dan demokrasi yang bisa jadi korban, tapi kejujuran.

Tak dengan sendirinya menjaga integritas dan berlaku jujur bisa dilakukan tanpa dilema yang pelik. Saya ingat sejumlah wartawan mencoba menulis “Peristiwa Mei 1998,” ketika rumah dan toko warga keturunan Tionghoa dibakar dan sejumlah perempuan dikabarkan diperkosa oleh gerombolan tak dikenal. Laporan yang beredar mengatakan, bahwa ada beberapa puluh korban perkosaan didaftar, dan bahkan ada foto korban yang didapat. Beberapa wartawan – terutama mereka yang menganggap kekerasan itu layak dikutuk, dan bahkan mungkin juga merupakan perbuatan aparat “Orde Baru” – berangsur-angsur menemukan bahwa bukti, saksi dan bahkan foto tentang peristiwa itu, tidak selamanya meyakinkan untuk mendukung skala kekerasan yang terjadi. Bahkan sebuah foto tentang korban ternyata diambil dari sebuah situs web yang dikeluarkan di Amerika Serikat beberapa bulan sebelum Mei 1998, dan tak ada kaitannya dengan huru-hara itu.

Bagaimana harus memberitakan kejadian ini – itulah dilema yang dihadapi banyak wartawan Indonesia. Jika beberapa cacat dalam laporan tentang korban perkosaan dibongkar ke publik, ada kemungkinan bahwa peristiwa perkosaan dan kekerasan itu akan dianggap seluruhnya bohong. Ini tentu keliru. Juga suatu backlash bisa terjadi, yang akan menyebabkan korban politik yang luas. Tapi jika wartawan tak hendak mengemukakan kepada umum, bahwa ada beberapa hal yang meragukan dalam laporan tentang “Peristiwa Mei” – meskipun yang mengerikan memang terjadi – bagaimana jurnalisme Indonesia bisa disebut jujur dan bertanggung jawab? Saya melihat, bahwa sebagian wartawan akhirnya memilih diam, dan sebagian lain memberitakan apa yang mereka temukan, tapi tanpa membantah laporan-laporan sebelumnya.

Pada akhirnya, menulis atau menyampaikan berita adalah sebuah laku moral. Apa yang dikemukakan Kovach dalam buku ini menegaskan hal itu kembali. Saya bersyukur dapat berkenalan dan banyak bicara dengan wartawan ini – yang pernah kehilangan jabatannya sebagai pemimpin redaksi Atlanta Journal-Constitution karena mempertahankan laku moral dalam pekerjaannya. Dari dia saya dapat mendapatkan inspirasi, dan dalam hal ini, saya kira saya tak sendirian.

*

Tulisan Goenawan Mohamad di kata pengantar buku Sembilan Elemen Jurnalisme: Apa yang Seharusnya Diketahui Wartawan dan yang Diharapkan Publik terbitan Pantau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close