Jangan Bangun Malam Ini

201713061_11

Oleh: Ikra Amesta

Hanya ada dua orang di pantai: Yang laki-laki sedang duduk bersantai di atas pelampung di laut, dan yang perempuan duduk gelisah di atas hamparan handuk di pasir. Keduanya mengenakan kacamata hitam. Siang ini matahari sedang cerah-cerahnya melayang di angkasa.

Apa Eka tahu?” renung Tari, “Tapi mana mungkin dia tahu kalau bukan aku sendiri yang memberitahunya,” lalu ia berhenti sejenak membaca bukunya. Di bawah parasol merah jambu, keningnya agak berkeringat, ia khawatir Eka bakal marah kalau mengetahui isi pikirannya.

Malam tadi, sambil berbaring Tari membayangkan seorang pria asing yang sempat berpapasan dengannya di lobi hotel. Kejadiannya cuma berlangsung sepintas tapi itu membuatnya jadi susah tidur karena tiba-tiba merasa bergairah. Seolah tanpa rasa bersalah ia menginginkan pria yang sudah berkeluarga itu menidurinya di atas karpet. “Apalah artinya sebuah nama? Aku menginginkan dia yang tak bernama wajah pria itu melekat dengan amat jelas di dalam kepalanya.

Sementara itu, berjarak sekitar 30 meter dari garis pantai Eka tidak bisa menangkap jelas ekspresi muka Tari. Toh ia juga tidak terlalu mempersoalkannya. Ia menengadah ke matahari lalu berpikir apakah nanti malam dirinya akan memimpikan matahari atau justru laut biru di sekitarnya ini. Ia mencelupkan telapak tangannya ke air lalu membayangkan lembutnya sentuhan sirip ikan yang berlalu-lalang. Ia merasa langit terlalu sepi dan menanti dengan santainya burung camar melintas di atas. Suasananya terasa damai dan tenteram, oksigen yang hangat melemaskan syaraf-syaraf, dan ia terasing dalam relaksasi.

Tadi malam Eka tidak bisa tidur lagi. Ini sudah malam insomnia yang keempat berturut-turut dari rangkaian empat minggu insomnianya. Matanya terpejam tapi ia tetap terjaga. Ia hanya bisa tidur di siang hari, saat suara-suara kehidupan membawa serta wujudnya, saat terang menuntun jutaan pasang mata, dan saat Milli tenggelam di layar laptopnya. Betapa ia sangat merindukan tidur di waktu malam sebab mimpi-mimpinya selalu ajaib. Terakhir kali itu terjadi ia bermimpi tentang warna merah yang hidup; bergerak dan mengeluarkan suara, makan dan berperasaan seperti halnya manusia ─ seluruh warna merah yang ada di dunia ini, termasuk lipstik merah di bibir Tari. Warna merah yang satu itu bicara panjang-lebar kepadanya namun hanya sebagian dari kata-katanya yang dimengerti Eka, sedangkan sisanya adalah bebunyian yang memekakkan telinga. Bahkan ketika bangun Eka yakin sekali kalau yang bicara itu bukan Tari, melainkan memang warna merah lipstik di bibirnya.

“Sejak kapan kamu pakai lipstik?” tanya Eka di sore sebelumnya.

“Aku kan perempuan.”

Dan herannya jawaban tersebut amat mengganjal hati Eka. Dalam seketika ia pun membisu. Itu bukan jawaban yang sesuai dengan pertanyaannya tadi. Itu adalah sebuah penegasan. Lagipula untuk apa Tari repot-repot memberitahu Eka apa yang sudah jelas-jelas diketahui. Maka ia hanya memandangi lipstik merah Tari sepanjang waktu, berharap mendapatkan sesuatu yang bisa ia pahami, hingga akhirnya ia bermimpi. Ia tidak pernah menceritakan mimpinya yang itu, atau mimpi-mimpinya yang lain, ke Tari, atau ke siapapun, karena ia bingung bagaimana harus menerjemahkan pengalamannya ke dalam kata-kata.

Apa yang tidak dimiliki Eka dari si pria kemarin?

Tanpa sadar Tari mulai merobek halaman buku yang sedang ia baca itu dengan pelan-pelan. Novel itu sudah lama ia beli tapi belum sempat dibaca. Eka yang merekomendasikannya dengan berapi-api, dulu sekali. Ia menaruh kertas sobekannya di sisi, menutupi garis batas antara handuk dan pasir putih. “Dia selalu tertidur seharian.”

Biasanya Tari baru naik ke ranjang dan tidur sekitar pukul 10 malam. Ia selalu mengantuk di saat Eka mulai mengetik di komputernya lalu terbangun sekitar pukul 6 pagi dan Eka meringkuk di sebelahnya, memunggunginya sambil dibungkus selimut. Buatnya, suara jari-jari Eka yang menekan keyboard di laptop terdengar seperti alunan ninabobo yang nyaman di kuping. Suara yang mampu mengantarnya tidur dalam tempo kurang dari satu menit saja.

Tari mengingat lagi bagaimana tadi malam ia masuk dan mengunci pintu kamar mandi hotel. Duduk sendiri di atas kloset, Tari mengawasi pintu seperti seorang maling. Agaknya ia mendengar suara langkah kaki tapi mungkin itu hanya perasaannya saja. Lalu jemarinya menyelinap masuk ke balik celana dalam, telunjuk dan jari tengah mendarat lebih dulu di permukaan kulit. Ternyata di bagian itu sedikit basah. Ia mendatangkan pria asing itu lagi ke dalam kepalanya, menahan suara di tenggorokannya, memutar pergelangan tangannya, lalu berhenti begitu telinganya seperti menangkap suara gesekan telapak tangan di depan pintu. Ia sadar kalau dirinya gelisah.

Dia tidak tahu,” Tari menatap Eka di laut dengan sorot yang beku. Suara pikirannya itu persis dengan suara yang timbul sebelum ia meneruskan masturbasinya lagi.

Sebuah percikan air menyadarkan Eka dari lamunan. Suaranya terdengar seperti ada benda yang tercebur tidak jauh dari tempatnya berlabuh. Ia berbalik menatap cakrawala namun tidak menemukan apa-apa. Ketika ia hendak berbalik lagi, terlihatlah sirip ekor ikan yang berukuran besar menyembul lalu memercikkan air sekali lagi dari kejauhan. Pemandangan itu membuatnya terpesona, hatinya terlonjak girang, kacamata hitamnya dilempar. Ia ingin memberitahu Tari tapi tampaknya tidak ada cara. Ia melambaikan tangan namun Tari kebetulan sedang tidak melihat. Sempat terbersit untuk berteriak tapi Tari terlalu jauh dan berteriak akan menguras energi, maka iapun mengabaikan kekasihnya. Ia tahu ini bukanlah mimpi.

Tari bukannya tidak melihat. Ia tahu Eka melambaikan tangan ke arahya tapi ia tidak membalas sebab pikirannya sedang terfokus ke arah yang lain. Ia menggambar wajah pria itu di kepalanya dengan detil-detil yang dikumpulkan dari memorinya, ditambah dengan beberapa bagian dari imajinasinya sendiri. Wajah itulah kiranya yang hampir membuat Tari melenguh di dalam kamar mandi, yang membuatnya seketika berhenti mengusap vaginanya dan merasa kalau dirinya sudah berjarak terlalu jauh dengan Eka. Walaupun anehnya, di malam itu ia juga merasa seperti selalu diawasi secara bersamaan.

Harus diakui, pria asing itu nyaris cocok dengan apa yang Tari gambarkan pada draft naskahnya. Sosok pria yang gurat-gurat maskulinitasnya tampak begitu kentara, pada otot lengannya, pada alis tebalnya, pada bulu-bulu halus dan rambut lebatnya, ditambah lagi dengan postur tegapnya yang sempurna, lengkap dengan gaya berjalan yang terkesan angkuh. Karakter yang sama sekali berbeda dari Eka. Dan itu adalah sebuah kebetulan yang dramatis, pertemuan yang terjadi di saat pikiran Tari buntu menentukan jalan hidup karakter fiktifnya. Maka yang Tari butuhkan adalah merasakan karakter itu ada dan hadir pada dirinya, senyata-nyatanya, sehidup-hidupnya, dan itu tak harus dipungkiri. Karakter yang tidak hanya timbul dan hidup di dasar gelas birnya. Eka semestinya bisa mengerti.

Seringkali Eka memang lebih suka memaksakan ide-ide masuk ke otaknya, sebab menunggu hanya akan membuatnya capek. Menemukan file yang sudah 2 tahun terkubur di laptop ternyata menerbitkan kegundahan baru. Sekitar 20 halaman Microsoft Words yang belum rampung menangkap ingatan lama tentang hasratnya membuat sebuah novel pendek. Bukan seperti novel panjang dan ambisius yang sedang digeluti Tari, tapi cukuplah novel yang dijilid tipis dan enteng dibawa kemana-mana, ke pantai misalnya. Namun melanjutkan tulisannya berarti masuk lagi ke sumur imajinasinya yang tak berujung, yang kadang gelap gulita dan pengap. Dulu ia meninggalkannya karena kering, sekarang ia masuk lagi karena Tari menulis buku, dan itulah tempat terbaiknya saat menghadapi tekanan kreatifitas.

Tapi sekarang Eka semakin menjauh. Ia berenang ke tempat di mana ekor ikan itu muncul, mungkin itu Tarik ikan paus yang memang beberapa kali pernah terdampar di tepi pantai. Dirinya tidak pernah menyangka akan bertemu dengan ikan paus sungguhan secepat ini dan sedekat ini. Eka belum sempat memberitahu Tari bahwa paus adalah binatang favoritnya yang kedua, meski Eka juga belum sempat memberitahukan apa binatang yang pertama.

Eka tidak tahu. Lagipula itu kan cuma masturbasi biasa,” pikir Tari, menenangkan dirinya, sambil menyeka aliran keringat hangat di pipi. Tapi mantra itu sudah ia ucapkan berpuluh-puluh kali dari sejak pagi dan kegelisahannya tidak pernah benar-benar hilang.

Perasaan aneh yang ia dapatkan saat malam bisa jadi muncul karena Tari baru pertama kali melakukan masturbasi lagi sejak bertahun-tahun lamanya. Terakhir kali itu terjadi adalah saat ia baru diputuskan pacarnya, dan masturbasi jadi sebuah pelepasan yang mengungkap perasaannya kepada laki-laki lain, yaitu teman dekat si mantan, yang selama ini telah mengungkungnya dalam kebisuan dan cinta yang palsu. Bedanya, saat itu ia merasa sangat lega dan senang karena telah melakukannya. Dan perbuatannya itu sama sekali tidak terasa seperti perselingkuhan. Bedanya lagi, kali ini ia didorong oleh semacam firasat yang mendadak menyentilnya begitu ia mengiyakan usul Eka berlibur ke pantai. Firasat yang mengiyakan kebimbangannya terhadap makna Eka dan seolah-olah menubuatkan babak terakhir dari pertalian mereka. Makanya waktu pertama kali ia masuk ke kamar hotel, selain hilangnya bau asap rokok Eka yang biasa memadati ruangan, ia mencium aroma kekosongan yang lain, yang lebih intens daripada rasa kehilangan laptop semata. Ia terancam oleh kebosanan dan untuk mengatasinya ia berharap pada dosa.

Sekarang, di bawah sinar matahari yang mulai tertutup awan, di halaman terakhir yang siap ia robek dari bagian novelnya yang belum dibaca, Tari tiba-tiba menginginkan, dengan sepenuh hati, Eka mengetahui perbuatannya semalam. Bukan memergokinya tapi cukup tahu saja dan dengan begitu rasa bersalahnya tidak akan memberati jiwanya lagi seorang diri, ia bisa membagi rasa bersalahnya dengan Eka, mengirisnya dalam porsi yang sesuai untuk dinikmati bersama-sama. Setidaknya ia bisa bercerita dalam suasana senda-gurau yang santai bahwa masturbasinya diselingi 3-4 kali jeda karena terganggu oleh suara-suara yang dikiranya berasal dari Eka. Dalam nuansa yang sangat santai Eka pasti bakal tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. “Dia pasti paham bagian lucunya, dan bagian-bagian lain yang membuatku melakukannya.”

Eka berhenti mendayung dengan tangannya karena lelah. Ia melupakan ikan paus itu lalu kembali bersantai, menyandarkan kepalanya dan diterpa sinar mentari lagi, ia pun menyadari bahwa Tari tampak sangat kecil sekarang, jauh dari jangkauan tangan maupun suara. Sekarang ia memilih untuk mendiami satu perasaan janggal yang tergeletak di tengah-tengah kenyamanan dan ketakutan.

Terus kenapa?” semestinya Eka bertanya, “kamu sudah perempuan tanpa lipstik merahmu itu.” Mungkin ada laki-laki lain yang ditulis dalam naskah buku Tari (bukan di jurnal pribadinya), entah itu sosok yang hidup atau imajinatif, dan laki-laki ini tertarik kepada bibir merah Tari. Ada kemungkinan lain laki-laki itu belum ditemukan dan justru Tari menggunakan lipstik merahnya itu untuk menemukannya. Selalu ada banyak kemungkinan dalam cerita, ada beragam kombinasi makna yang bisa ditarik serta belokan yang bisa diambil, tapi terkadang rasanya suntuk mencari jalur keluar begitu sampai di jalan buntu.

Lalu seperti dihantam palu alarm jam weker, Tari terlonjak dalam duduknya. Ia menyadari satu kesalahan konyol yang ia lakukan tadi malam ─ yang awalnya ia pikir sebagai bentuk kamuflase yang tepat ─ yaitu menyalakan keran begitu ia selesai. Sewaktu ia keluar dari kamar mandi Eka sedang duduk di atas ranjang, membungkuk, dan Ia kaget, meskipun sudah menyiapkan dalih. Sekarang, ia gelisah membayangkan suara kucuran air itu, suara yang pasti telah mengusik Eka dari tidurnya.

“Pipis?” sambut Eka dari balik remang lampu tidur.

“Iya.”

“Aku mau pipis…” Eka beranjak ke kamar mandi sementara Tari langsung meringkuk di balik selimut. Tari menunggu Eka kembali dari kamar mandi. Menunggu. Dan menunggu. Dan menunggu. Kemudian Tari tertidur lelap. Sampai akhirnya Eka membangunkannya tadi pagi dan mengajaknya bersantai di pinggir pantai.

Dia tahu!” Tari terhenyak, disambut angin yang menerbangkan kertas-kertas sobekan novelnya ke arah laut. Ia bangkit berdiri, dan Eka sudah menjadi titik di lautan mahaluas, dan ia tak tahu bagaimana Eka bisa berenang sampai sejauh itu.

Eka asyik menutup matanya, terbuai oleh alunan ombak yang menggoyang tubuhnya ke sana ke mari. Ia tersenyum geli karena ada sesuatu yang menyentuh tangannya dari bawah permukaan air. Semacam sirip ikan yang besar dan meliuk perlahan. Ia merasakan, si pemilik sirip ini punya gerak-gerik yang anggun, seolah khas penguasa lautan yang terbiasa menaklukkan setiap riak dan ayunan air, dan yang mengambil semua hak untuk menyatakan apa yang miliknya dan yang bukan di samudra ini.

Eka menyunggingkan senyum terlebarnya. Yang terakhir ia sadari, air laut merangsek masuk ke lubang hidungnya dengan amat marah.

+

Ilustrasi foto dari tangkapan layar film On the Night at Beach Alone (2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close