Terbenam dalam Timbunan Aroma Karsa

Oleh: Hendi Abdurahman (@akayberkoar)

aroma karsa

Jati Wesi, yang menjadi tokoh utama dalam novel Aroma Karsa-nya Dewi Lestari adalah nyata. Buktinya, sehari setelah menamatkan novel ini, dia (Jati Wesi) merasuki saya dengan caranya: menciumi aroma bangkai tikus— yang enggak tercium oleh orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari Dee kecil mengendus aroma unik sehabis hujan, aroma itu tercium di udara. Dia terpukau dan lantas menghirupnya dalam-dalam. Setelah tumbuh menjadi seorang yang dewasa, barulah Dee tahu bahwa aroma yang dia hisap itu bernama petrikor.

Di hari yang berbeda, Dee kecil melihat seorang tukang kebun yang sedang membabat rumput. Dee lantas berpikir, betapa beruntungnya dia (tukang kebun tersebut) yang kerap menghirup udara sewangi itu setiap hari. Lagi, setelah tumbuh menjadi seorang yang dewasa, barulah Dee tahu bahwa wangi itu disebabkan asiri yang meruap dari bilah rumput yang terbelah.

Dua pengalaman di atas, yang ditulis Dee di bagian akhir novel terbarunya itu, seolah membuat dunia aroma memang selalu menjadi hal yang menarik untuknya. Meski tentu saja pengalaman masa kecilnya itu bukan menjadi pemantik utama Dee dalam membikin Aroma Karsa. Namun seenggaknya, Dee memang sudah jauh-jauh hari memiliki ketertarikan tentang hal-hal mengenai indra penciuman.

Dalam dunia menulis, Dee menyadari betapa timpangnya penggambaran indra penciuman dibandingkan deskripsi dari jendela lain: visual, pendengaran, dan pengecapan.

“Aroma memang tidak mudah diungkapkan. Itu pula yang membuat jendela penciuman begitu primitif, instingtif, sekaligus sukar diuraikan secara serebral,” kata Dee.

Dee merupakan salah satu penulis produktif yang dimiliki negeri ini. Karya-karyanya tak hanya dikenal dan dibaca orang, tapi juga mendedah rasa penasaran dan rasa ingin tahu. Meski tak semua karyanya saya baca, seenggaknya Madre, Filosofi Kopi, Perahu Kertas dan yang terakhir Aroma Karsa berhasil membikin saya untuk terus memburu sejak halaman pertama hingga lembaran terakhir.

“Penciuman memiliki kekuatan kompleks dan menyeluruh untuk membawa kita ke berbagai tempat, pengalaman, dan kenangan. Nah, dengan tujuan mengeksplorasi kekuatan itulah, saya menulis Aroma Karsa,” ungkap Dee.

Jauh sebelum berkenalan dengan Aroma Karsanya Dewi Lestari, saya disadarkan tentang betapa berpengaruhnya aroma dan indra penciuman saat saya membaca tulisan Nuran Wibisono di salah satu media daring. Saat pulang ke kampung halaman, kata Nuran, ibunya kerap menyediakan masakan kesukaannya. Sebelum mencicipi rasa dari masakan buatan ibunya itu, Nuran berpendapat bahwa ternyata indra penciumanlah yang begitu dominan dan menjadi pembuka untuk menyantap makanan.

Ya, indra penciuman itu punya kekuatan lebih daripada visual dalam tubuh manusia. Dia yang membangun imajinasi. Seperti dalam kasus saya yang membaui bangkai tikus. Di mana bangkai yang belum terlihat secara visual, membuat saya membayangkan bagaimana rupa bangkai itu saat saya temukan dalam keadaan mati. Apakah terlentang, atau justru tengkurap. Pun, dalam aroma telur dadar bertabur bawang daun yang belum tampak di mata, aromanya akan terlebih dulu mengalahkan bayangan tentang bagaimana bentuk telur itu, apakah tebal atau justru tipis.

Menghidu dari Awal hingga Akhir

Novel terbaru Dee yang berjudul Aroma Karsa ini bercerita tentang pencarian tanaman bernama Puspa Karsa. Di awal cerita, Dee layaknya seorang wiraswasta yang akan menjadi seorang wirausahawan dengan membikin perusahaan startup. Dia mulai menjahit isi cerita awal dengan hati-hati dan teliti. Saya pun terbawa untuk memulainya dengan meraba-raba. Tokoh, setting tempat, dan alur cerita dibikin secara perlahan sekaligus dirancang agar terasa kuat. Apa dan bagaimana bentuk dari Puspa Karsa masih berupa bayang-bayang. Namun pada akhirnya, bayangan saya tentang Puspa Karsa itu terbentuk dengan sendirinya.

Dee berhasil membangun sekaligus menguatkan karkater yang diciptakan. Setelah berhasil membuat saya seperti Keenan dan Jodi, kali ini dia berhasil membikin saya seperti Jati Wesi.

Rangkaian cerita dari awal, tengah, sampai akhir begitu terasa smooth. Meski konflik yang coba dia hadirkan (antara Jati Wesi dan Suma) sangat biasa, Dee berhasil menambalnya dengan memberi sentuhan berbeda pada konflik tokoh-tokoh lain.

Jati Wesi, Tanaya Suma, dan Raras Prayagung menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Dari pengambilan nama tokoh, saya melihat Dee—lagi-lagi—pandai menyematkan nama-nama tokoh yang bisa dibilang tak biasa namun akhirnya membentuk karakter yang kuat. Selain ketiganya, masih banyak tokoh-tokoh pendukung lain seperti Nurdin, Arya, Anung, Jindra dan masih banyak lagi.

Jika Jati Wesi, Suma, dan Arya ada dalam karakter yang tak berwujud. Sosok Raras di benak saya sedikit berbeda. Saya membayangkan Raras seperti Lidya Kandou atau Meriam Belina di sinetron-sinetron lawas. Sosoknya terbayang sebagai sosok yang ambisius, penuh gairah, awet muda, dan tentu saja bohay.

Saya tak tahu percis apakah ide Dee untuk membikin novel dengan tema aroma dan penciuman ini adalah hal yang baru atau sudah ada sebelumnya. Namun yang jelas, seperti yang pernah diutarakannya, bahwa kita dicari oleh ide. Kriteria sosok yang disukai ide, menurut Dee, yakni pemerhati yang jeli, pengamat yang peka, pekerja yang gigih dan tekun, partner tepat waktu yang tidak ingkar sama janji, dan satu lagi, bertanggung jawab.

Membaca utuh novel ini, saya seperti sedang bermain sepakbola. Sebelum gol tercipta, tim merancang serangan dari belakang. Dari mulai penjaga gawang, bek, lalu diarahkan ke pemain tengah. Sebelum sampai kepada penyerang, hadir beberapa momen di mana si pemain tengah ini banyak gocek yang akhirnya bola dapat direbut tim lawan. Namun, tetap saja dia berhasil merebut kembali bola tersebut dan berujung pada kaki si penyerang. Di titik ini, gawang tim lawan mulai tampak. Si penyerang melihat gawang lawan dengan jelas untuk kemudian melakukan tembakan kencang yang berujung pada sebuah gol.

Nah, yang menjadi pertanyaan, akankah tim sepakbola yang saya analogikan tadi akan kembali bertanding di pertandingan selanjutnya, yang artinya si Aroma Karsa berlanjut untuk dijadikan sekuel seperti Supernova? Entahlah, yang jelas, setelah Filosofi Kopi (yang mungkin mempunyai pengaruh terhadap merebaknya kedai-kedai kopi hari ini) akankah toko parfum merebak dan mulai “gaduh” setelah novel ini booming? Kita lihat saja nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close