Kisah Setengah Satu Malam

Oleh: Arif A. Rahman (@yeaharip)

Tadinya aku mengira bahwa matahari bisa dijadikan kawan. Tapi buktinya tidak masuk di akal. Yang capek, yang berjuang mati-matian mendapat kekalahan. Yang diam, yang tidak berbuat apa-apa mendapat kemenangan.

– Sangkuriang, Utuy T. Sontani

1

Perempuan itu tidur telentang di kasurku, sementara aku masih masyuk membaca cerpen László Krasznahorkai. Sesekali, aku mencuri pandang padanya. Tentu, siapa yang bakal tahan untuk tidak menekuri keindahan tubuh semolek itu; rambut sebahu tergerai, kaus katun hitam tipis dengan sablon Unknown Pleasure-nya Joy Division, menutupi sekaligus membentuk lekuk dada ranum di baliknya, celana chino Panjang warna krem ketat membalut kakinya. Bagai Putri Salju terlelap tak berdaya, dengan tanpa penjagaan tujuh kurci di sekelilingnya, menunggu sampai seorang pangeran datang menciumnya agar bisa membuatnya terbangun. Dalam tidur, bukit dadanya turun naik saat bernapas, bibirnya merah mekar, parfum beraroma apel menguar dari tubuhnya. Adegannya hampir-hampir seperti dalam video Jepang dewasa saja, terpikir olehku saat sekilas memelototinya. Maka sebelum pikiran tidak-tidak melebar lebih jauh, dan sebelum hal-hal menjijikan yang bakal bikin para rohaniawan dan feminis sama-sama geram, aku lekas mengembalikan perhatianku pada buku digital bajakan yang terpacak di layar monitor. Aku menghela napas.

Kau berbeda, kata perempuan itu suatu kali. Semua lelaki bajingan, kecuali yang sudah tak bernyawa, kelakarnya di suatu kali yang lain, Jadi, kau lelaki betulan apa bukan sih? Kau punya burung kan? tanyanya suatu kali yang masih belum lama — baru saja sebelum dia merebahkan diri di kasurku, tepatnya. Aku lelaki tulen, tegasku, dan burungku normal. Shalat dan masturbasi sama rajinnya, tambahku setengah bercanda. Mana tunjukan burungmu, tantangnya sambil cekikikan.

Selain diriku, Dhike Kinanti Putri ini adalah orang kedua yang betah berlama-lama di kamar indekosku. Jika ungkapan makin amburadul kamarmu, maka makin jantan dirimu, benar adanya, rasanya perempuan dengan nama panggilan Ikeu (dilapalkan seperti pada nama penyanyi dangdut Ikke Nurjanah), yang sekarang sedang terlelap tidur di kamar ini, tak perlu lagi dia mempertanyakan kejantananku. Kecuali jaringan internet yang mengalir begitu cepat, tak ada yang lain yang bakal bikin kamu betah; lantai yang berserak diktat kuliah, beragam buku fiksi, tumpukan kertas tugas kuliah, pakaian kotor, serta piring bekas makan yang belum kucuci, yang membuatmu sulit melangkah, juga wangi pengharum ruangan yang selalu kalah telak dengan bau apek tentu bikin kau ingin segera keluar dari kamar centang-perenang 3×4 meter minim ventilasi ini. Bagai kapal pecah, puji ibuku suatu kali saat menengok. Bersama kepindang, Ikeu sekarang masih nyenyak di atas kasur kumal tanpa sepreiku. Ajaib.

Laptop kubiarkan menyala, sedang mengunduh beberapa film juga piranti lunak bajakan, dan tengah memperdengarkan Mariya Takeuchi yang bernyanyi Plastice Love. Masih dalam tidurnya, Ikeu beberapa kali menggeliat, yang membuatku meliriknya setiap kali dia melakukan itu. Kali ini, tubuhnya mengejang, tangannya mengepal gemetar, lalu dia mulai melenguh, uh oh ah, yang niscaya bakal membuat semua makhluk dari spesies apa pun terangkat birahinya. Benar-benar seperti suara mendesah Sora Aoi yang tengah ditindah lelaki paruh baya, pikiran mesum ini langsung hinggap di kepalaku. Sial, lagi mimpi apa bocah ini? Berkatnya, aku jadi kehilangan fokus pada alur cerita yang sedang kubaca. Uh oh ah. Dibuat was-was karena lenguhannya makin intens, aku merasa harus untuk mengeraskan suara musik dalam laptop alih-alih membangunkannya. Entah kenapa, aku segan mengganggu tidurnya, seakan ada dorongan jika aku memaksa membangunkannya bakal timbul hal buruk. Dan aku selalu percaya pada intuisiku. Lebih karena kantung kemihku memaksa ingin dikosongkan, aku memutuskan pergi ke toilet di luar yang terpisah dari kamar indekos ini.

Aku tinggal di bangunan indekos dua lantai sebelum Jembatan Cincin, kamarku berada paling pojok, di lantai atas. Satu kamar mandi tersedia untuk tiap dua kamar, dan beruntung bagiku karena kamar disebelahku kosong, sehingga kamar mandi otomatis milikku seorang. Oh ya, tentang Jembatan Cincin, kalau kau menelesurinya di internet, yang kau dapatkan adalah beragam gambar jembatan bekas rel kereta api di kala senja dan beragam kisah misteri tentang jembatan di Jatinangor ini. Bahwa di bawahnya merupakan markas dedemit, bahwa banyak berkeliaran arwah penasaran dari orang-orang yang bunuh diri terjun dari jembatan ini. Dan, untuk tempat indekosku ini, banyak pula rumor beredar kalau bangunan ini angker, utamanya dua kamar dan toilet yang berada paling pojok, kamarku. Bagaimana pun, aku bisa mendapat kamar indekos tercintaku dengan harga miring.

2

Sial benar, keran tak mengalirkan air saat aku hendak berseka sehabis kencing. Beruntung dalam gayung di dasar bak penampung ada setengah penuh air. Setelah krisis identitas, yang dihadapi mahasiswa kere macam kami rupa-rupanya adalah krisis air. Dan, aku jadi berpikir bagaimana nasib kami selanjutnya apabila apartemen dua belas lantai yang ujug-ujug tumbuh itu setelah dibuka nanti. Apartemen itu berada di seberang Jembatan Cincin, berjarak tak jauh dari pemukiman tempat indekosku ini. Kupikir, Sangkuriang dan para jinnya yang memegang proyek pembangunan, karena begitu cepatnya aku tak sadar apartemennya sudah setinggi itu. Saat ini air sudah sering tak mengalir lancar, aku berdiam memandangi apartemen yang hampir rampung itu setelah keluar dari kamar mandi, bagaimana nanti? Jatinangor nampaknya bukan antah berantah lagi.

Hanya samar terdengar suara cicit anak ayam. Kalian tidak akan percaya ini, tapi aku pernah berdiri sendirian di tengah Jembatan Cincin, sekitar pukul satu atau dua malam, dan maaf tidak ada cerita seram yang dapat aku bagikan saat itu. Entah kenapa aku melakukannya. Uji nyali? Mungkin iya. Sialnya, sekali lagi, tak ada pengalaman seram yang dapat aku bagikan. Di malam itu, karena pegal seharian hanya duduk depan laptop, aku memutuskan pergi keluar untuk sekadar mencari angin. Tempat indekosku memang tepat di bibir Jembatan Cincin. Di malam itu, setelah sampai di tengah Jembatan Cincin, aku berdiri dan mengeluarkan sepak rokok, mengambil sebatang, yang memang tinggal satu lagi, menempelkannya di mulut, dan membuang kotak rokoknya langsung ke bawah jembatan, yang merupakan perkuburan, yang hanya terlihat gelap malam itu, betul-betul gelap. Harusnya aku langsung kena hukuman karena telah bertindak tak sopan, beruntungnya tidak, atau belum. Aku berdiri dan mengesap rokok dan menerawang ke sekitar, dan tak ada apa-apa. Aku ingat, waktu itu aku habis nonton film Hongkong 90an dari Wong Kar Wai, dan aku pikir aku si protagonis dalam film tadi. Aku terus berdiri sampai rokok habis. Merokok dan melamun. Tak ada apa-apa.

Mungkin ini akan sedikit membikin kalian girang. Di jalan kembali ke tempat indekos, aku merasakan ada seseorang, atau apapun itu, yang memperhatikanku. Hanya perasaanku saja memang. Saat tiba di ujung jembatan, aku samar-samar mendengar suara cicit anak ayam. Kalian pasti sudah tahu, ini tanda-tanda kalau bakal ada kedatangan kuntilanak. Tapi tak ada. Si anak ayam atau si kuntilanak. Belum ada sensus atau penelitian resmi soal berapa banyak dedemit di Jembatan Cincin. Kabarnya ada banyak.

Saat memasuki kamar, Ikeu sudah kembali tidur dalam damai seperti kucing, menggemaskan tapi tak melakukan laku aneh macam tadi. Mengecilkan suara speaker laptop, aku kembali melanjutkan pembacaanku.

3

“Anjir, lapar! Pesen mie tektek lah.”

Aku memang mendengarnya tapi membatin, Acuhkan saja. Hampir beres, tinggal dua paragraf terakhir dalam cerita yang sedang kubaca. Ikeu menguap kemudian meregangkan tangannya ke atas.

“Aing barusan ngimpi begituan sama anjing, lho.”

Anjing, ulangku, lebih sebagai pertanyaan bukannya umpatan. Seperti Dayang Sumbi saja, celetukku.

“Ternyata pake gaya anjing asyik betul,” ucapnya. “Kamu harus coba jadi anjingnya.”

Aku tak berkomentar, menutup buku lalu menuju meja laptop untuk mengecek proses unduh, untuk kemudian meraih ponselku. Cuma mie tektek? tanyaku pada Ikeu, dan ia mengangguk. Aku mengetikkan pesan singkat kepada warung makan terdekat untuk mengirimkan langsung ke kamarku: 2 mie tektek, 1 jus alpukat. Kos Pak D, no 13.

“Eh ngomong-ngomong, akhir ceritanya Sangkuriang tuh gimana ya?”

Mungkin karena celetukanku tentang Dayang Sumbi tadi, meski aku tak tahu pasti kenapa dia tiba-tiba bertanya soal ini. Tapi, aku selalu suka jika harus bercerita padanya. Ada banyak versi, aku mulai menjelaskan, tapi aku paling suka versi cerita bikinan Utuy T. Sontani. Siapa dia? tanyanya. Aku menjelaskan sekilas tentang pengarang kelahiran Cianjur itu. Dalam cerita Utuy, terangku, karena Sangkuriang sadar telah dibodohi sehingga gagal menuntaskan syarat lamaran kawinnya, maka ia membunuh Dayang Sumbi. Tapi kemudian Sangkuriang menyadari dan merasa bersalah karena membunuh ibunya sendiri, maka ia pun bunuh diri. Tragis seperti kisah Romeo-Juliet, komentarku. Aku juga menambahkan versi cerita lain, yang menyebutkan kalau setelah kegagalan Sangkuriang meminang ibunya, dia kecewa, namun akhirnya memutuskan untuk mengabdikan diri jadi pasukan Belanda di Batavia. Jadi tentara? Dia senyum tak percaya, Pasukan barisan sakit hati berarti. Aku juga punya versiku sendiri, selorohku. Pasti akhirnya bahagia? tebaknya, Sangkuriang sama Dayang Sumbi jadi kawin, kan? Berakhir bahagia memang, tapi tak seperti itu, incest itu haram, belaku, Sangkuriang kawin dengan putri raja jin, sementara Dayang Sumbi yang dikutuk tak bisa tua terus hidup sampai hari ini, sampai akhirnya dia memutuskan untuk masuk grup idola wanita. Ngarang! Dia memotongku, lalu menyerebot menghadap laptopku, dan menyuruhku pindah tempat seakan-akan sedang mengusir ayam. Mematikan musik yang sedang diputar, lalu membuka laman Youtube, untuk kemudian menonton klip video lima gadis Korea yang asyik bernyanyi dan bergoyang dengan sepatu hak tinggi di atas panggung. Tuh, Dayang Sumbi lagi tampil, tunjukku pada salah satu perempuan di layar laptop itu, Kang Seulgi. Ah, mungkin aku akan memberi kalian tips bagaimana cara menghafal member grup idola nanti.

Terdengar sahutan sengau dari luar, makanan sudah tiba rupanya.

4

Dengan tangan kiri, perempuan itu menyibak helain rambutnya ke belakang telinga kiri. Seakan-akan itu dilakukan dalam tempo lambat, dan aku mengagumi tiap gerakan yang dia buat tersebut. Saat cuping telinganya tersingkap, aku merasa kecantikannya makin bertambah-tambah. Dari bagian tubuh yang lain, aku baru sadar telinganya kupikir adalah yang paling indah dan memikat. Padahal itu adalah perempuan yang sudah kukenal baik, setidaknya menurutku begitu soal Dhike. Sejurus kemudian, Dhike menanggalkan kaos singletnya, membuat payudaranya tak terlindung apa-apa lagi. Secara spontan, aku segera menutup aplikasi pemutar video laptopku. Dasar bocah sinting, umpatku. Yang kulakukan kemudian hanya menatap kosong kearah laptopku.

Merebahkan diri ke kasur yang tepat berada di belakangku, seperti orang dungu aku menerawang ke atas langit-langit kamar. Ternyata Ikeu tak main-main. Saat pulang setelah dia tidur sembari melenguh itu, dia minta izin pinjam kameraku. Buat bikin video panas, jawabnya sambal cekikikan saat kutanya untuk apa. Kupikir hanya celetukan canda saja. Saat mengecek kartu memori kameraku, aku menemukan video itu. Ikeu dan aku hanya sebatas teman, tak lebih. Selama masih bisa melihat wanita telanjang di internet, tak butuh-butuh amat punya pacar, jelasku suatu kali padanya. Meski memang, banyak yang menganggap kami punya hubungan romantik. Aku, lebih tepatnya kami berdua, tak terlalu ambil pusing. Saat sedang berbaring itu aku jatuh dalam tidur. Hanya tidur sekejap, kupikir, bahkan aku tidak merasa sudah tertidur. Ketika terbangun, aku mendapati sensasi basah di selangkangan dan celanaku. Aku tak punya petunjuk apa pun tentang mimpi yang kualami dalam tidur barusan. Sepersekian detik kemudian, telepon genggamku berdering. Dari Ikeu.

“Aing barusan ngimpi bercinta sama anjing lagi,” tembaknya. “Dan kamu lupa pakai kondom kayaknya. Bisa hamil ini mah.”

Advertisements

1 thought on “Kisah Setengah Satu Malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close