Kisah Memukau Tentang Benturan Dua Peradaban

orhan pamuk namaku merah

Benim Adim Kirmizi (1998) tak pelak merupakan novel yang mengukuhkan pengarangnya, Orhan Pamuk, sebagai salah satu novelis terbaik dunia saat ini. Novel ini secara cemerlang menggabungkan teka-teki misteri, kisah cinta, dan renungan filsafati yang berlatar masa kekuasaan Sultan Murat III di Kesultanan Usmani dalam sembilan hari musim salju 1591, sekaligus mengajak para pembacanya untuk mengalami ketegangan antara Timur dan Barat dari perspektif yang sangat memukau.

Kisah indah dan memikat ini bermula di Istanbul – simbol tonggak kejayaan Islam yang terakhir – akhir abad ke-16, saat sang Sultan secara diam-diam menugaskan pembuatan sebuah buku tak biasa untuk merayakan kejayaannya, dihiasi ilustrasi para seniman terkemuka saat itu. Ketika seorang seniman yang mengerjakan buku itu dibunuh secara misterius, seorang lelaki muram dengan masa silam sekelam namanya ditugasi untuk mengungkap misteri pembunuhan yang pada akhirnya menguak jejak benturan peradaban Timur (Turki-Islam) dan Barat (Eropa-Kristen) – dua cara pandang dunia berbeda yang pada akhirnya memicu konflik tak berkesudahan, bahkan hingga saat ini.

Dalam sebuah wawancara tentang novel yang ditulisnya selama enam tahun ini, Orhan Pamuk yang dinobatkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Sastra 2006 menegaskan pandangannya tentang betapa perbedaan hendaknya tidak dijadikan alasan untuk bertikai dan saling membunuh, “Dua cara yang berbeda dalam melihat dunia dan bercerita ini tentu saja berkaitan dengan kebudayaan kita, sejarah kita, dan apa yang kini secara luas disebut identitas. Seberapa dalam mereka terlibat dalam konflik? Dalam novel saya, mereka bahkan saling membunuh karena pertentangan antara Timur dan Barat ini. Namun, tentu saja, saya berharap para pembaca menyadari bahwa saya tidak percaya pada konflik ini. Karya seni yang baik muncul dari perpaduan beragam hal yang berasal dari aneka akar dan budaya, dan semoga novel ini mampu menggambarkannya.”

Benim Adim Kirmizi (diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai My Name Is Red pada 2001, dan kini diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Namaku Merah) paling tidak telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan memenangi sejumlah hadiah sastra internasional terkemuka, antara lain Prix du Meilleur Livre Etranger 2002 (Prancis). Premio Grinzane Cavour 2002 (Italia), dan International IMPAC Dublin Literary Award 2003 (Irlandia).

Ketika ditanya, apakah pengaruh kemenangan hadiah IMPAC (nilainya sekitar 1,2 miliar rupiah) itu atas kehidupan dan karyanya, dengan santai Pamuk menjawab, “Tiada yang berubah dalam hidup saya karena saya bekerja sepanjang waktu. Saya telah menghabiskan 30 tahun untuk menulis karya sastra. Selama 10 tahun pertama, saya khawatir soal uang dan tak seorang pun bertanya berapa banyak uang yang saya hasilkan. Dalam 10 tahun kedua, saya menghabiskan banyak uang dan tak seorang pun bertanya tentang hal itu. Kini, saya telah menghabiskan 10 tahun terakhir dan setiap orang ingin tahu bagaimana saya menggunakan itu …”

Siapakah sesungguhnya Orhan Pamuk? Ia dilahirkan sebagai Ferit Orhan Pamuk di Istanbul pada 7 Juni 1952 dari sebuah keluarga berada – ayahnya adalah CEO pertama IBM Turki. Pamuk menghabiskan sebagian besar hidupnya di Istanbul, diselingi masa tiga tahun di New York saat ia menjadi dosen tamu di Universitas Columbia dari 1985 hingga 1988. Setelah sempat kuliah arsitektur selama tiga tahun di Universitas Teknik Istanbul karena tekanan keluarganya yang ingin agar ia menjadi insinyur, ia memutuskan keluar untuk menjadi penulis penuh waktu dan berkonsentrasi menulis novel pertamanya – walaupun kemudian ia menyelesaikan kuliahnya di jurusan jurnalistik Universitas Istanbul pada 1977. Pamuk pernah menikah dengan Aylin Turegen pada 1982, tetapi mereka bercerai sembilan belas tahun kemudian. Keduanya memiliki anak perempuan, Ruya (untuknya novel Benim Adim Kirmizi dipersembahkan).

Pamuk yang awalnya lebih tertarik pada seni rupa mulai menulis secara serius pada 1974. Novel pertamanya, Karanlik ve Isik (Gelap dan Terang) memenangi sayembara penulisan novel Miliyet Press 1979. Novel ini kemudian diterbitkan dengan judul Cevdet Bey ve Ogullari (Tuan Cevdet dan Anak-anaknya) pada 1982, dan memenangi Hadiah Sastra Orhan Kemal pada 1983. Novel ini berkisah tentang tiga generasi sebuah keluarga Istanbul kaya yang hidup di Nisantasi, sebuah kawasan makmur di Istanbul tempat Pamuk dibesarkan.

Pilihan tepat atas jalan hidupnya ditandai dengan sejumlah penghargaan yang diraih Pamuk untuk karya-karya awalnya, termasuk Hadiah Madarali 1984 untuk novel keduanya Sessiz Ev (Rumah yang Sunyi) dan Prix de la Decouverte Europeenne 1991 untuk terjemahan bahasa Prancis novel ini. Novel historisnya, Beyaz Kale (Kastil Putih, 1985 – diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai White Castle pada 1990), memenangkan Independent Foreign Fiction Prize di Inggris pada 1990 dan memperluas reputasinya di luar negeri. The New York Times Book Review yang berwibawa itu bahkan menulis tentang Pamuk dengan pujian setinggi langit, “Bintang baru telah terbit di Timur, Orhan Pamuk, seorang penulis Turki.”

Novel Pamuk berikutnya, Kara Kitap (Buku Hitam, 1990), menjadi salah satu bacaan paling kontroversial dalam sastra Turki karena kompleksitas dan kekayaannya. Pada 1992, ia menulis naskah untuk film Gizli Yuz (Wajah Rusia) berdasarkan novel Kara Kitap yang disutradarai oleh sineas Turki terkemuka, Omer Kavur. Novel keempatnya, Yeni Hayat (Hidup Baru), menimbulkan sensasi di Turki saat terbit pada 1995 dan sempat menjadi buku terlaris dalam sejarah negeri itu. Reputasi Pamuk kian melambung seiring terbitnya novel Benim Adim Kirmizi ini pada 1998.

Novel Pamuk lainnya adalah Kar (Salju, 2002 – diterjemahan ke bahasa Inggris sebagai Snow, 2004), yang membahas konflik antara Islam dan Barat di Turki modern. The New York Times mencatat Snow sebagai salah satu dari Sepuluh Buku Terbaik 2004. Sementara itu, terjemahan bahasa Prancis novel ini, Neige, meraih Prix Medicis 2005. Pamuk juga menerbitkan karya non-fiksi, antara lain sebuah catatan perjalanan, Istanbul – Hatiralar ve Sehir (Istanbul – Kenangan dan Kota, 2003).

Karya-karya Pamuk umumnya bercirikan kegamangan atau hilangnya identitas yang sebagian ditimbulkan oleh benturan antara nilai-nilai Eropa dan Islam. Karya-karyanya kerap mengganggu dan menggelisahkan, dengan alur yang rumit dan memikat, serta penokohan yang kuat.

Di negerinya sendiri yang penduduknya mayoritas muslim, ia dianggap pemberontak karena menentang fatwa hukuman mati terhadap Salman Rushdie dan membela hak-hak etnis minoritas Kurdi. Ia juga bicara lantang tentang hak-hak asasi manusia, hak-hak perempuan, reformasi demokratis, dan isu-isu lingkungan hidup.

Akibat keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran walaupun getir, pada 2005 pemerintah Turki menjeratnya dengna tuduhan kriminal setelah ia membuat pernyataan keras dalam wawancara dengan Das Magazin, sebuah majalah terbitan Swiss pada Februari 2005. Dalam wawancara itu Pamuk menyatakan, “Tiga puluh ribu orang Kurdi dan sejuta orang Armenia dibunuh di negeri ini dan tak seorang pun yang berani berbicara tentah hal ini, kecuali saya.” Bila dinyatakan bersalah dalam sidang pengadilan, Pamuk bisa dipenjarakan hingga tiga tahun.

Pada Oktober 2005, Orhan Pamuk memenangi Hadiah Perdamaian dalam Pameran Buku Jerman untuk karya-karya sastranya yang dianggap berhasil mengemukakan konflik nilai antara peradaban Eropa dan Turki-Islam. Ini adalah hadiah buku paling bergengsi di Jerman. Walaupun tengah menghadapi ancaman serius di negerinya sendiri, dalam pidato yang disampaikannya pada upacara pemberian hadiah itu, Pamuk menegaskan kembali kesaksiannya, “Saya ulangi, saya katakan dengan jelas bahwa sejuta orang Armenia dan tiga puluh ribu orang Kurdi telah dibunuh di Turki.”

Tuduhan dan ancaman terhadap Pamuk mengundang reaksi internasional. Pada 1 Desember 2005, Amnesti Internasional menyerukan agar Pamuk dibebaskan. Dalam bulan itu juga, delapan pengarang terkemuka dunia – Jose Saramago (Portugal), Gabriel Garcia Marquez (Kolombia), Gunter Grass (Jerman), Umberto Eco (Italia), Carlos Fuentes (Meksiko), Juan Goytisolo (Spanyol), John Updike (Amerika Serikat), dan Mario Vargas Llosa (Peru) – mengumumkan pernyataan bersama yang mengecam tuduhan-tuduhan terhadap Pamuk sebagai pelanggaran atas hak-hak asasi manusia.

Namun, ironisnya, pada saat yang sama sebagian rekan sebangsanya justru menyerang Pamuk karena ia dianggap terlalu memusatkan kritiknya terhadap “Turki dan orang Turki”, tetap tidak bersuara keras terhadap pemerintah-pemerintah lain yang juga berbuat kejahatan serupa – baik pada masa lalu maupun masa kini. Selain itu, sebagian pengamat mencurigai pernyataan kerasnya itu hanyalah siasat agar ia memenangi Hadiah Nobel Sastra 2005 yang kemudian dianugerahkan kepada sastrawan Inggris, Harold Pinter.

Terlepas dari segala kontroversi yang melingkupi penulisnya, bagi khalayak pembaca di Indonesia, novel Namaku Merah ini tentu merupakan bacaan bermutu yang layak disimak. Melalui karya cemerlang yang diramu dengan intrik politik, dongeng klasik, dan kisah cinta bercabang yang getir ini, Orhan Pamuk membuktikan diri sebagai salah satu sastrawan terkemuka dunia masa kini.

*

Catatan penyunting oleh Anton Kurnia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close