Pengembaraan Ernesto dan Alberto Granado

the_motorcycle_diaries-921886746-large

Alberto Granado, seorang ahli biokimia dan saudara dari kawan sekolah Ernesto, Tomas dan Gregorio, mengajak Ernesto untuk ikut dengannya melakukan perjalanan keliling Amerika Selatan. Ini terjadi pada tahun 1951. Pada saat yang sama Ernesto sedang berpacaran dengan seorang gadis jelita dari Cordoba. Aku dan keluargaku yakin bahwa ia akan menikahinya.

Suatu hari Ernesto berkata: “Aku akan pergi ke Venezuala, Ayah.”

Bayangkan betapa terkejutnya aku ketika bertanya, “Berapa lama kau akan pergi?” dan ia menjawab, “Setahun.”

“Lalu bagaimana dengan pacarmu?” tanyaku.

“Jika dia mencintaiku, dia akan menunggu,” begitu jawabnya.

Aku sudah terbiasa dengan antusiasme anakku yang muncul mendadak tetapi aku juga tahu betul bahwa ia sangat tertarik dengan gadis itu, dan aku kira hal ini akan mengurangi kehausannya mencari cakrawala baru. Aku bingung. Aku tidak memahami Ernesto. Ada hal-hal tentang dirinya yang tidak bisa aku pahami dengan baik. Hal-hal itu baru jelas seiring dengan berjalannya waktu. Kala itu aku tak menyadari bahwa obsesinya terhadap pengembaraan adalah bagian lain dari semangatnya untuk belajar. Ia tahu bahwa untuk sungguh-sungguh memahami kebutuhan orang miskin dirinya harus melakukan perjalanan ke seluruh dunia, bukan sebagai turis yang mampir untuk mengambil gambar-gambar indah dan menikmati pemandangan, tetapi dengan berbagai penderitaan sesama manusia di setiap tikungan jalan dan mencari akar penyebab penderitaan itu. Perjalanannya adalah sebentuk riset sosial, pengembaraan keluar untuk mencari jati diri, dan sekaligus berusaha meringankan penderitaan sebisanya.

Dengan tekad, empati, hati yang bersih dari kedengkian, dan kesediaannya untuk berkorban inilah ia bisa terjun ke kondisi manusia yang penuh kekurangan, yang celakanya merupakan keadaan dari sebagian besar kaum miskin di seluruh dunia. Bertahun-tahun kemudian, dengan merenungkan kembali pengembaraanya yang terus-menerus itu, aku menyadari bahwa hal tersebut telah memberi keyakinan kepada dirinya tentang jalan hidupnya yang sejati.

Setelah Ernesto berangkat ke Venezuela, aku suatu ketika makan siang bersama dengan salah seorang putriku dan temannya, Bapa Cuchetti, seorang pastor yang terkenal di Argentina lantaran ide-idenya yang liberal. Aku ceritakan kepadanya tentang bagian pengembaraan Ernesto di hutan Amazon dan apa yang telah dilakukan oleh Ernesto dan sahabatnya di koloni lepra di San Pablo. Ia mendengarkan penuh perhatian penjelasanku tentang kehidupan yang mengerikan akibat lepra. Ia kemudian berkata, “Kawanku, kurasa aku bisa berkorban untuk sesama manusia, tetapi tinggal bersama penderita lepra di lingkungan yang tidak higienis di kawasan tropis sepanjang pagi, siang, dan malam, adalah sesuatu yang jelas tak bisa kulakukan. Aku angkat topi untuk integritas dan rasa perikemanusiaan putramu dan rekannya itu, sebab apa yang telah mereka lakukan itu bukanlah sekedar keberanian: kau butuh kemauan sekeras baja dan rasa kasih-sayang yang luar biasa serta jiwa yang dermawan. Putramu akan menjadi orang besar.”

Sesungguhnya aku sering mengikuti pengembaraan Ernesto dalam imajinasiku, namun aku selalu dangkal saja merenungi apakah yang sesungguhnya memotivasinya. Terlebih lagi, aku terkecoh oleh caranya menceritakan perjalanannya dengan biasa-biasa saja, seolah-olah perjalanan itu bisa dilakukan siapa saja dengan mudah. Ia menghindari dramatisasi berlebihan dan, mungkin agar kami sekeluarga tak cemas, ia pura-pura terkesan oleh hal-hal yang menarik hati.

Belakangan, melalui surat-suratnya, kami baru tahu bahwa ia mengikuti dorongan misionaris yang tak pernah hilang dalam dirinya. Kisah-kisahnya, yang senantiasa hidup dan menarik, mengandung sisi ironis sehingga pendengarnya yang bingung tak akan pernah tahu apakah ia sedang serius atau bercanda.

Aku ingat tulisannya dari Peru. Ia mengatakan suatu hari ia sedang menuju ke utara, dan tulisannya kira-kira seperti ini: “Apabila kalian tidak mendengar kabar dari kami selama setahun, carilah kepala kami yang terpenggal di museum Yankee, karena kami akan melewati daerah Jibaro di mana penduduknya adalah pemburu kepala yang ahli.” Kami tahu siapa itu orang Jibaro dan kami juga tahu bahwa selama berabad-abad mereka memenggal kepala musuh-musuhnya. Hal ini memberikan sisi lain dari kisah tersebut: kisah itu bukan lagi olok-olok; ada kebenaran di dalamnya.

Aku berdiam diri setiap kali Ernesto memutuskan untuk pergi menjelajah. Saat ia memberi tahuku tentang perjalanan yang direncanakannya bersama Granado, aku katakan kepadanya, “Engkau telah mengalami masa-masa sulit. Bagaimana mungkin aku menasihati hal sebaliknya jika itu adalah sesuatu yang selalu kuimpikan? Tetapi ingat, jika engkau tersesat di belantara dan aku tak mendengar kabar darimu dalam jangka waktu yang cukup lama, aku akan datang mencarimu, melacak jejakmu, dan tak akan pulang sampai aku menemukanmu.” Ia tahu aku akan melakukannya, dan aku pikir ini akan mencegahnya agar tidak menyerempet-nyerempet bahaya. Aku memintanya untuk selalu meninggalkan tanda tentang keberadaanya dan mengirimi kami catatan perjalanannya. Ia melakukannya dalam surat-suratnya. Dan lewat suratnya pula kami mengetahui hakikat tujuan putra kami. Surat-surat itu memberi kami analisis sosial-politik ringkas tentang negara-negara yang dilewatinya dan juga memuat pikiran-pikiran yang menunjukkan bertambahnya kecenderungan kepada Komunisme.

Bagi Ernesto ini bukanlah suatu hobi, dan kami tahu itu. Kami pelan-pelan mulai menghargai usaha besarnya tersebut. Ia memiliki potensi untuk melakukan apa pun yang dikehendakinya, tetapi potensi belaka tidaklah cukup: bagian paling sulit sesungguhnya adalah mewujudkan impian, rencana dan harapan ke dalam kenyataan. Ernesto punya kepercayaan diri dan juga kemauan untuk sukses, serta tekad luar biasa untuk mewujudkan yang telah ia perjuangkan. Selain itu ia memiliki kecerdasan yang telah ia buktikan dan karenanya kau dapat memahami mengapa ia bisa mencapai banyak hal dalam waktu yang sedemikian singkat.

Kini ia bersama Alberto Granado tengah mengikuti jejak langkah para penjelajah legendaris Amerika. Seperti mereka, keduanya mesti meninggalkan kenyamanan, ikatan emosional, keluarga, dan berangkat mencari cakrawala baru: Granado, barangkali, bertekad menemukan dunia baru; Ernesto juga bertujuan sama, namun ia juga mempunyai pengetahuan mistik tertentu tentang takdirnya sendiri. Demikianlah, Ernesto dan sahabatnya itu mengikuti jejak conquistador. Perbedaannya, conquistador haus akan penaklukan, sedangkan kedua orang itu mempunyai tujuan yang sangat berbeda.

*

Diambil dari prolog Catatan Harian Che Guevara terbitan Banana Publisher, 2005. Terjemahan prolog diambil dari buku Mi Hijo el Che (Che Anakku) karya Ernesto Guevara Lynch terbitan Editorial Arte y Literatura, Havana, 1988.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close