Mengenal Wes Anderson: Sutradara Hipster dalam “Fantastic Mr. Fox”

Oleh: Dina Layinah Putri (@dinahanan)

mrfox2

Tiga perusahaan agrikultura bernama Boggis si peternak ayam, Bunce si peternak angsa dan bebek, dan Bean si peternak kalkun sekaligus petani apel (satu gendut, satu cebol, satu kerempeng yang berbeda penampilannya namun sama kejamnya), bersama-sama mereka menggempur habis-habisan keluarga Mr. Fox karena telah mencuri produk-produk mereka.

Adegan diawali pada saat senjakala, di sebuah bukit ketika Mr. Fox (George Clooney) sedang asyik masyuk makan apel dibawah pohon sambil mendengarkan musik lewat walkman. Ia sedang menunggu pacarnya Felicity (Meryl Streep). Mereka memburu burung dara di peternakan terdekat dan apesnya terperangkap di sebuah jebakan karena kelalaian Fox sendiri. Di perangkap itulah Feicity berkata bahwa ia sedang mengandung anaknya Fox dan meminta Fox berjanji untuk berhenti mencuri dan mencari pekerjaan yang layak.

Dua belas tahun waktu rubah (dua tahun waktu manusia) berlalu, Fox menjadi seorang ayah dan wartawan, lebih tepatnya seorang kolumnis di sebuah koran lokal Gazette. Mendiami sebuah rumah yang sebenarnya sebuah lubang di bawah tanah dan mempunyai anak laki-laki yang agak keras kepala bernama Ash (Jason Schwartzman).

Mempunyai Felicity dan Ash, ia merasa bosan hidup miskin di lubang sehingga ia berencana dan nekat untuk membeli sebuah pohon besar yang didalamnya terdapat rumah untuk keluarganya tetapi resiko yang ia terima lebih berat karena pohon tersebut berdekatan dengan tiga peternak terkejam, terburuk, dan terjahat dalam sejarah sehingga mengancam keselamatan spesiesnya.

Ash tumbuh menjadi rubah muda bersemangat namun juga penuh keluh-kesah. Bayang-bayang kehebatan ayahnya dimasa lalu dan sikap acuh tak acuh ayahnya membuat hubungan Ash dan ayahnya tidak begitu harmonis. Ash merasa yakin mempunyai bakat menjadi atlit seperti ayahnya sekaligus merasa kecewa karena setiap kali ia ingin menunjukkan kemampuanya, ia selalu merasa menjadi anak yang tidak begitu meyakinkan di depan ayahnya.  

Lalu datang sepupu Kristofferson di keluarga Fox, sepupu dengan bakat alami yang jago karate dan hobi melakukan yoga. Bakat-bakat atletik yang membuat Mr. Fox kagum dengan kemampuan alamiah sepupu Kristofferson tetapi juga sekaligus membuat Ash cemburu dan iri setengah mati karena diabaikan oleh ayahnya.

Lewat “Fantastic Mr. Fox,” Wes Anderson, film animasi stop motion pertamanya yang memang fantastik, ia menunjukkan  bagaimana sebuah buku anak berhalaman yang tak sampai 100 karya Roald Dahl ini di adaptasi ke dalam sebuah film dengan cerita yang lebih rumit, karakter-karakter yang mendalam, serta visual yang intens dan menawan.

Ada Kylie si tupai, partner in crime Fox yang baik namun bodoh. Selalu menyenangkan melihat mereka terlibat percakapan mengenai rencana-rencana besar yang sudah Fox siapkan, ada sepupu Kristofferson yang tinggal sementara dengan keluarga Fox, ada Badger, Beaver & Beaver si pengacara hukum, sampai Rat seorang tikus yang berprofesi sebagai penjaga keamanan gudang jus apel milik Bean.

Film ini lebih dari sekedar hiburan, ia juga berperan sebagai refleksi kehidupan kita sebagai manusia, salah satu percakapan menggelitik adalah ketika Mr. Fox menyinggung tentang eksistensi yang mengingatkan saya dengan eksistensilisme Jean-Paul Sartre.

Fox : “Siapakah aku ini, Kylie?”

Kylie : “Siapa bagaimana?

Fox : “Mengapa aku rubah? Mengapa aku bukan kuda, kumbang, atau elang? Maksudku ini lebih dari sekedar eksistensi diri, kau tahu. Siapa aku dan bagaimana rubah bisa merasa bahagia…

Kylie : “Aku tak tahu apa maksudmu tapi kedengarannya ini ilegal.”

Wes Anderson, sutradara eksentrik berusia 49 ini di kenal sebagai sineas dengan gaya naratif dan karya visual yang khas di setiap filmnya. Dijuluki sutradara hipster yang mempunyai gaya anti-mainstream dalam membuat film dengan teknik pengambilan gambar secara simetris, penokohan dan desain produksi yang unik dan idiosinkratik, pola dialog yang hidup dan menarik, gaya kamera gerak cepat dan slow motion yang khas, sampai menerapkan art noveau color palette dalam spektrum pewarnaan kostum dan detil-detil lokasi pengambilan gambar, benda-benda, dan bangunan-bangunannya. Ia tidak hanya seorang filmmaker, tetapi juga seorang arsitek. Alih-alih menggunakan warna kuning, ia merubahnya menjadi mustard seperti kapal selam dalam “The Life Aquatic with Steve Zissou” (2004), biru di ganti dengan navy seperti jas Max Fisher dalam “Rushmore” (1998), dan hijau diganti dengan moss seperti pemandangan laut dalam “Moonrise Kingdom” (2012). Ia juga dikenal sebagai seorang autuer, seorang yang menerapkan kontrol yang sangat tepusat dan subjektif terhadap banyak aspek dari kerja kreatif kolaboratif.

Kau tahu, hubungan sutradara dan aktor bisa begitu sangat dekat sehingga beberapa aktor berlangganan tampil di beberapa film dengan sutradara yang sama. Seperti Martin Scorsese dengan Leonardo DiCaprio-nya, Richard Linklater dengan Ethan Hawke-nya, Tim Burton dengan Johnny Depp-nya, dan tentu saja Wes Anderson, sutradara yang berumur 49 tahun ini setia dengan Bill Murray dan Owen Wilson-nya. Ia kerapkali menggunakan aktor yang sama secara berulang mulai Bill Murray, Owen Wilson, Luke Wilson, Jason Schwartzman, Wally Wolodarsky, Luke Wilson, Angelica Huston, Willem Dafoe, Jeff Goldblum, Waris Ahluwalia, sampai Edward Norton.

Film-film yang ia buat selalu saja memukau penonton. Ia mempunyai sense of art tersendiri. Ini didukung dengan fakta bahwa ia terlibat langsung mulai dari penyutradaraan, screenplay, sinematografi serta penulisan ceritanya pun merupakan imajinasinya. Di setiap filmnya, ia hampir selau menggunakan partner menulis atau asisten screenwriter dalam skrip filmnya. Yang paling sering menemaninya diantaranya Owen Wilson, Noah Baumbach, dan Roman Coppola.

*

Dina Layinah Putri. Homo sapiens yang mencintai kegiatan membaca dan menonton. Bisa dikunjungi lewat FB: Dina Layinah Putri, IG: @dinahanan dan blog: dinahanan.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close